“Setelah Choe Hyon, kami akan segera mengoperasikan kapal perusak Kang Kon. Setelah itu, kami akan meluncurkan kapal perang strategis berbobot 10.000 ton secara bertahap,” ujarnya.
Ia juga menyatakan Korea Utara berencana membangun dua kapal perang permukaan setiap tahun dengan kelas yang lebih tinggi dibandingkan Choe Hyon, termasuk kapal penjelajah berbobot 10.000 ton.
Sebagai perbandingan, kapal perang kelas 10.000 ton seperti kapal perusak kelas Arleigh Burke milik Angkatan Laut Amerika Serikat dan kelas Sejong the Great milik Korea Selatan umumnya memiliki panjang sekitar 150 hingga 170 meter atau setara satu setengah lapangan sepak bola, dengan bobot yang setara ribuan mobil.
Saat ini, Angkatan Laut Korea Selatan telah mengoperasikan lebih dari 10 kapal perang berbobot di atas 5.000 ton. Sementara itu, Korea Utara baru memiliki dua kapal dalam kategori tersebut.
Profesor studi militer di Sangji University, Choi Gi-il, menilai pencapaian pembangunan kapal perang 10.000 ton memiliki nilai simbolis yang besar bagi Korea Utara.
“Kapal sebesar itu menunjukkan tekad Pyongyang untuk tidak semakin tertinggal dari kekuatan maritim Seoul,” ujarnya kepada AFP.
Program Nuklir Korea Utara Masih Berlanjut
Pyongyang berulang kali menegaskan statusnya sebagai negara berkekuatan nuklir yang “tidak dapat diubah”. Sikap tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat perundingan antara Amerika Serikat dan Korea Utara pada 2018 dan 2019 berakhir tanpa kesepakatan.
Pertemuan puncak terakhir antara Kim Jong Un dan Presiden Donald Trump di Hanoi pada 2019 juga berakhir buntu terkait isu denuklirisasi dan pencabutan sanksi.

