FLORES, 16 Agustus 2026 — Jaringan Caritas Indonesia bergerak cepat membantu warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB.

Gempa berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dan sempat memicu peringatan dini tsunami. Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah NTT, NTB hingga Sulawesi Selatan.

Data sementara BNPB per 15 Agustus mencatat 47 orang meninggal dunia, 101 orang luka-luka, dan lebih dari 5.934 warga mengungsi.

Pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Sikka sebanyak 3.356 jiwa dan Manggarai 2.078 jiwa.

Gempa juga memicu sedikitnya 341 gempa susulan. Kerusakan tercatat pada 914 rumah dengan kategori rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Sebanyak 93 fasilitas pendidikan dan kesehatan serta 38 kantor pemerintah turut terdampak.

Kebutuhan mendesak pengungsi antara lain tenda darurat, makanan, obat-obatan, selimut, velbed, tikar, air bersih, dan genset.

Caritas Aktifkan Respons Darurat

Jaringan Caritas Indonesia bersama Caritas keuskupan terdampak mengaktifkan respons kemanusiaan untuk membantu masyarakat dalam masa tanggap darurat.

Caritas Indonesia menetapkan Status Skala Dampak Level III (Orange) dan mengerahkan Caritas Response Team (CRT) untuk melakukan asesmen cepat, pendataan, koordinasi, serta mendukung distribusi bantuan.

Respons ini dijalankan dengan semangat One Church, One Response, yang menggerakkan berbagai unsur Gereja untuk bekerja sama membantu masyarakat terdampak.

Dukungan juga diberikan Ketua KWI Mgr. Antonius Bunjamin Subianto, OSC, bersama para Uskup Organ Yayasan Karina KWI. Direktur Caritas Indonesia, Rm. Fredy Rante Taruk, Pr., menegaskan komitmen bantuan darurat secara terpadu bagi masyarakat terdampak.