Ia berharap pemerintah pusat melalui APBN dapat menanggung sekitar 60 persen kebutuhan pembiayaan. Sementara sisanya dapat didukung melalui APBD Provinsi Jambi, APBD Kabupaten Muaro Jambi, Perumda Air Minum Tirta Muaro Jambi, skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), serta dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Menurutnya, pembangunan SPAM Regional Mendalo-Jaluko juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-6, yakni menjamin ketersediaan dan pengelolaan air bersih yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.
Jika kapasitas pelayanan berhasil ditingkatkan hingga 300 liter per detik, cakupan layanan air minum aman di kawasan tersebut berpotensi mencapai 100 persen pada tahun 2030 dengan jumlah penerima manfaat antara 96 ribu hingga 120 ribu jiwa.
Selain memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, proyek ini juga diyakini akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Ketersediaan air bersih yang memadai dinilai mampu memperkuat posisi Mendalo sebagai kawasan pendidikan, mendorong perkembangan permukiman modern, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, serta membuka peluang investasi baru di Kabupaten Muaro Jambi.
“Persoalan air bersih Mendalo bukan lagi isu PDAM semata, tetapi sudah menjadi isu strategis pembangunan kawasan metropolitan Jambi. Infrastruktur air minum harus dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk pertumbuhan ekonomi, kesehatan masyarakat dan daya saing daerah. Jika kita ingin Mendalo menjadi pusat pendidikan dan kawasan permukiman modern, maka kebutuhan air bersih harus menjadi prioritas mulai hari ini,” tegas Ivan Wirata.

