Politisi Partai Golkar itu menjelaskan, solusi yang diperlukan bukan sekadar menambah kapasitas produksi air, melainkan membangun SPAM Regional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Dalam konsep yang telah disusun, proyek tersebut meliputi pembangunan intake air baku dari Sungai Batanghari berkapasitas 300 liter per detik, rumah pompa dan sistem pemompaan air baku, Instalasi Pengolahan Air (IPA) berkapasitas 300 liter per detik, reservoir induk berkapasitas 5.000 hingga 10.000 meter kubik, jaringan transmisi utama berdiameter 600 hingga 800 milimeter, hingga jaringan distribusi yang menjangkau kawasan Mendalo, Pijoan, Simpang Sungai Duren, kawasan kampus, serta kawasan industri yang terus berkembang.
Selain itu, sistem tersebut juga direncanakan menggunakan teknologi modern berupa SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) dan Smart Metering untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan jaringan, mempercepat deteksi gangguan, serta menekan tingkat kehilangan air.
Berdasarkan estimasi biaya konstruksi tahun 2026, kebutuhan investasi pembangunan SPAM Regional Mendalo-Jaluko diperkirakan mencapai Rp450 miliar hingga Rp550 miliar atau sekitar Rp500 miliar. Anggaran tersebut mencakup pembangunan intake, rumah pompa, instalasi pengolahan air, reservoir, jaringan transmisi dan distribusi, sistem teknologi pengawasan, pembebasan lahan, perencanaan teknis, hingga biaya cadangan proyek.
Ivan menilai proyek strategis tersebut memerlukan dukungan pembiayaan dari berbagai pihak karena tidak memungkinkan hanya mengandalkan satu sumber anggaran.

