El Nino merupakan fenomena pemanasan berkala suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik.

Menurut Biro Meteorologi Australia, kondisi tersebut biasanya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan selama musim dingin dan musim semi, khususnya di wilayah pantai timur Australia. Selain itu, suhu siang hari di bagian selatan negara itu cenderung lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

Fenomena ini memiliki dampak besar terhadap sektor pertanian Australia yang merupakan salah satu eksportir utama gandum, gula, dan daging sapi dunia.

Gangguan cuaca akibat El Nino berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian serta hasil panen di berbagai wilayah.

El Nino Sebelumnya Picu Kekeringan dan Ganggu Produksi Pertanian

Australia terakhir mengalami El Nino pada periode 2023 hingga 2024. Saat itu, fenomena tersebut menyebabkan periode tiga bulan terkering yang pernah tercatat di negara tersebut.

Sementara itu, salah satu El Nino terkuat yang terjadi pada 2015 hingga 2016 mengakibatkan kekeringan meluas dan berdampak pada penurunan produksi biji-bijian serta minyak nabati.

Dengan proyeksi intensitas yang tinggi pada 2026, otoritas cuaca Australia terus memantau perkembangan kondisi di Samudra Pasifik untuk mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin ditimbulkan terhadap cuaca, pertanian, dan ketahanan pangan.