Namun, menurut Marwan, laju penurunan angka kemiskinan masih berjalan lambat. Di sisi lain, tingkat ketimpangan yang tercermin dari Rasio Gini masih berada di angka 0,375, yang menunjukkan distribusi kesejahteraan belum merata.

Marwan menilai pertumbuhan ekonomi selama ini masih terkonsentrasi di kota-kota besar dan investasi berskala besar. Sementara masyarakat kecil masih menghadapi berbagai persoalan dasar dalam kehidupan sehari-hari.

“Rakyat kecil masih menghadapi persoalan mendasar seperti harga pangan, akses rumah layak, kesehatan, dan pekerjaan yang layak,” katanya.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan model pertumbuhan ekonomi baru yang lebih inklusif dan berbasis transformasi struktural. Model tersebut dinilai tidak hanya berfokus pada pencapaian angka statistik, tetapi juga menciptakan lapangan kerja produktif, memperkuat ekonomi rakyat, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan.

Marwan mengatakan transformasi pertama yang perlu dilakukan adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berorientasi pada penciptaan lapangan kerja formal atau job-intensive growth.

“Keberhasilan investasi jangan hanya diukur dari nilai investasinya, tetapi juga dari seberapa besar dampaknya terhadap lapangan pekerjaan dan pendapatan masyarakat,” jelasnya.