Jambi – Kualitas udara di Kabupaten Muaro Jambi masuk kategori tidak sehat. Data BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai 65,3 µg/m³ pada Senin (10/8/2026) pukul 09.00 WIB.

Angka tersebut muncul saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di wilayah Muaro Jambi. Di Desa Persiapan Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, lahan gambut yang terbakar diperkirakan mencapai 50 hektare.

Karhutla yang dilaporkan berlangsung sejak Rabu (5/8/2026) hingga kini masih dalam penanganan tim gabungan. Kondisi lahan gambut dan cuaca panas menjadi tantangan dalam proses pemadaman.

Di tengah situasi tersebut, cuaca Muaro Jambi terasa panas. Pemutakhiran BMKG pada Senin pagi mencatat suhu sekitar 31 derajat Celsius, dengan kelembapan 65–66 persen dan angin bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan sekitar 12 kilometer per jam.

Prakiraan BMKG menunjukkan suhu di sejumlah wilayah Muaro Jambi dapat mencapai 33 derajat Celsius pada siang hari. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran lahan, terutama di kawasan yang masih kering.

Namun, data BMKG juga menunjukkan jarak pandang di sejumlah titik Muaro Jambi masih lebih dari 10 kilometer. Karena itu, belum terdapat dasar untuk menyatakan kabut asap telah menyebabkan gangguan jarak pandang secara signifikan.

Meski demikian, kombinasi PM2.5 kategori tidak sehat, karhutla puluhan hektare, cuaca panas dan pergerakan angin dari tenggara membuat kondisi udara Muaro Jambi perlu mendapat perhatian.

Asap dari lokasi kebakaran berpotensi terbawa angin ke wilayah lain. Namun, arah dan luas sebaran asap tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan arah angin permukaan dan memerlukan analisis atmosfer serta data sebaran partikulat.

Kondisi ini menjadikan pemantauan kualitas udara penting dilakukan secara berkala, bersamaan dengan percepatan penanganan karhutla di lapangan. Sebab, semakin lama kebakaran berlangsung, semakin besar pula potensi emisi partikulat yang dilepaskan ke udara.