Aktivis Dampingi Warga Palestina di Masafer Yatta

Sam Sherman menerima pemberitahuan pencabutan izin ketika masih mengikuti program selama tujuh pekan di kawasan Masafer Yatta.

Dalam keterangannya, ia mengatakan dirinya tidak pernah ditangkap karena aktivitas tersebut. Ia menyebut beberapa kali dihentikan oleh tentara yang kemudian memfoto identitasnya sebelum dirinya diperbolehkan pergi.

Kawasan Masafer Yatta di selatan Tepi Barat menjadi salah satu wilayah yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami ketegangan antara warga Palestina, pemukim Israel, aktivis, dan aparat Israel.

Laporan Anadolu sebelumnya juga mencatat adanya penahanan aktivis asing ketika mereka mendokumentasikan serangan pemukim terhadap warga Palestina di wilayah selatan Tepi Barat.

Pencabutan Izin Terjadi di Tengah Kekerasan di Tepi Barat

Insiden pencabutan izin masuk tersebut terjadi di tengah laporan mengenai meningkatnya serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina dan properti mereka di Tepi Barat.

Data resmi otoritas Palestina yang dikutip dalam laporan tersebut mencatat sedikitnya 3.488 serangan terhadap warga Palestina dan aset mereka sepanjang semester pertama 2026.

Bentuk serangan yang disebut meliputi penganiayaan fisik, perusakan properti, pembangunan pos pemukiman baru yang dinyatakan ilegal, hingga tindakan intimidasi yang menghalangi petani Palestina menggarap lahan pertanian mereka.

Dalam perkembangan lain di Masafer Yatta, laporan Anadolu pada Juli 2026 menyebut enam warga Palestina mengalami luka setelah diserang pemukim Israel di Umm al-Khair.

Sementara itu, pada Mei 2026, Anadolu melaporkan adanya pembangunan pos pemukiman baru di wilayah Umm al-Khair, Masafer Yatta, yang menurut pejabat Palestina membagi wilayah desa menjadi dua bagian dan menghambat akses jalan yang digunakan warga.

Hingga laporan mengenai pencabutan izin tersebut diterbitkan, belum ada penjelasan resmi dari otoritas Israel mengenai alasan pencabutan izin masuk para aktivis Yahudi AS tersebut.