Ketiga aset tersebut diproyeksikan menjadi fondasi utama pengembangan bisnis non-batubara BUMI dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut Cliff, kombinasi Wolfram, JML, dan Laman Mining berpotensi mempercepat transformasi bisnis perusahaan. Ia menilai BUMI memiliki keunggulan karena proses diversifikasi sudah berjalan nyata, sementara kinerja bisnis batu bara tetap kuat.

Jika ketiga aset tersebut mulai memberikan kontribusi signifikan, target komposisi EBITDA sebesar 50 persen dari batu bara dan 50 persen dari bisnis non-batubara berpeluang tercapai lebih cepat dari target yang ditetapkan pada 2031.

Kinerja Batu Bara Tetap Solid

Di tengah upaya diversifikasi, bisnis inti batu bara BUMI masih mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2026.

Pendapatan perusahaan tumbuh 19,7 persen menjadi US$417,7 juta. Laba sebelum pajak melonjak 93,1 persen secara tahunan, sementara laba bersih meningkat 36,6 persen menjadi US$41,1 juta.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan produksi dan penjualan batu bara, serta perbaikan efisiensi operasional tambang.

Produksi batu bara tercatat naik 12 persen menjadi 19,2 juta ton, sedangkan volume penjualan meningkat 14 persen menjadi 19,1 juta ton. Selain itu, strip ratio membaik menjadi 7,7 kali dibandingkan 8,4 kali pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Cliff menambahkan, kombinasi antara bisnis batu bara yang masih solid dan perkembangan proyek non-batubara yang semakin matang menjadikan prospek pertumbuhan BUMI lebih menarik dibandingkan sejumlah emiten batu bara lainnya.