JAKARTA — Wakil Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Kusnoto mengungkapkan para perajin terpaksa memperkecil ukuran tahu dan tempe yang dijual di pasaran untuk menahan kenaikan harga jual di tengah meningkatnya biaya produksi.

“Kalau sekarang bukan hanya kedelai saja. Plastik naik, minyak goreng naik, daya beli juga seperti ini,” kata Kusnoto dikutip detikcom, Sabtu (3/10).

Menurut Kusnoto, tekanan terhadap perajin terjadi karena sejumlah komponen biaya produksi mengalami kenaikan secara bersamaan. Salah satunya harga kedelai impor yang disebut meningkat dari Rp9.500 menjadi Rp11.600 hingga Rp12.000 per kilogram.

Beban produksi juga bertambah akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), plastik kemasan, minyak goreng, serta ongkos logistik.

Harga plastik kemasan, misalnya, disebut naik dari kisaran Rp20.000-Rp25.000 menjadi Rp35.000-Rp45.000 per kilogram. Sementara kurs dolar AS yang sebelumnya berada di kisaran Rp14.500-Rp15.500 pada 2022 disebut telah mencapai Rp18.000 pada 2026.

Harga minyak goreng seperti Minyakita juga disebut naik dari HET Rp14.000 menjadi Rp15.700 per liter.

Ukuran Tempe Diperkecil agar Harga Tetap Terjangkau

Menghadapi kenaikan biaya produksi, perajin memilih menahan harga jual dengan menyesuaikan ukuran produk.

Data Gakoptindo mencatat harga tempe ukuran 250 gram dan tahu 500 gram saat ini ditahan di angka Rp5.000. Langkah tersebut dilakukan karena perajin khawatir kenaikan harga membuat konsumen beralih.

Kusnoto memberikan gambaran mengenai perubahan ukuran tempe yang dilakukan perajin. Jika seorang perajin menggunakan 1 kuintal kedelai dalam sehari dan menghasilkan 22 batang tempe, satu batang yang sebelumnya dipotong menjadi enam bagian kini dapat diiris menjadi tujuh bagian dengan harga jual tetap Rp10 ribu.