OLEH: JORGI PASARIBU

Di tengah wacana nasional tentang perjuangan Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional, ada satu wilayah yang sesungguhnya menyimpan jejak sejarah yang sangat konkret namun belum dinarasikan dengan kuat: Parlilitan. Ironisnya, di tanah yang diyakini menjadi bagian penting dari jejak perjuangan, markas pergerakan, hingga situs-situs bersejarah terkait beliau, justru kesadaran kolektif masyarakat tentang kekayaan sejarah ini belum terbangun secara utuh.

Kita sering bangga menyebut nama besar Sisingamangaraja XII sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Kita mengajarkannya di sekolah, menyebutnya dalam pidato, bahkan menjadikannya identitas budaya Batak. Namun pertanyaan mendasarnya: sudahkah kita benar-benar merawat ruang sejarah yang nyata, yang ada di depan mata kita sendiri?

Parlilitan bukan sekadar wilayah geografis di Kabupaten Humbang Hasundutan. Ia adalah ruang historis. Tanah ini menyimpan jejak perjuangan, kisah pelarian strategis, dan situs-situs yang berkaitan dengan fase akhir perjuangan Sisingamangaraja XII dan para pengikutnya. Di desa-desa seperti Sion Sibulbulon dan wilayah sekitarnya, terdapat makam keluarga, panglima, serta lokasi yang secara turun-temurun diyakini sebagai bagian dari basis pertahanan dan markas perjuangan. Ini bukan sekadar cerita lisan kosong, melainkan warisan sejarah yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.