Jakarta — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan kesiapannya untuk mendorong regulasi yang mengatur agar film Indonesia tidak cepat masuk ke layanan streaming seperti Netflix setelah tayang di bioskop.

Menurut Fadli, percepatan distribusi film ke platform digital berpotensi mengganggu keberlangsungan industri bioskop yang selama ini menyerap banyak tenaga kerja.

“Bioskop bisa tutup lama-lama kalau orang sudah mulai nonton langsung di gadget,” kata Fadli di Jakarta, seperti diberitakan Antara pada Rabu (1/4).

Ia mengungkapkan dukungannya terhadap kebijakan yang memberikan hak eksklusif penayangan film di bioskop selama empat bulan. Untuk itu, pemerintah berencana berdiskusi dengan para produser film terkait implementasi aturan tersebut.

Selama ini, penayangan film di bioskop Indonesia masih mengikuti mekanisme pasar. Film yang mampu menarik banyak penonton cenderung bertahan lebih lama di layar.

Di sisi lain, jumlah bioskop di Indonesia dinilai masih terbatas, sehingga ruang persaingan menjadi sempit, sementara produksi film nasional terus meningkat.

Kondisi tersebut membuat sejumlah produser yang filmnya tidak bertahan lama di bioskop memilih menjual hak siar ke layanan streaming.

Fenomena ini juga pernah menimbulkan kekhawatiran di Amerika Serikat, terutama saat Warner Bros menjadi incaran Netflix, yang membuat pelaku bisnis bioskop khawatir kehilangan peluang pendapatan akibat durasi penayangan yang semakin singkat.

“Di Eropa orang susah datang ke bioskop lagi, sangat sedikit. Banyak bioskop yang tutup. Di Korea juga sekarang meskipun filmnya luar biasa ke mana-mana, tetapi orang yang datang ke bioskop sudah sangat sedikit,” ujar Fadli.