Wisuda Tahfidz sebagai Nikmat Terbesar
Wagub Sani menyebut Wisuda Tahfidz yang digelar menjadi salah satu bentuk “al-kautsar” atau nikmat besar yang Allah berikan kepada wali santri dan pondok pesantren tersebut. Para santri yang diwisuda disebutnya sebagai aset akhirat dan mahkota cahaya bagi orang tua mereka.
“Kepada para santri yang diwisuda, menghafal Al-Qur’an adalah awal, bukan akhir. Menjaga hafalan (murojaah) jauh lebih berat daripada menghafal. Jadilah Ahlul Qur’an yang berakhlak mulia. Jangan bangga dengan hafalannya, tapi takutlah jika Al-Qur’an tidak meresap dalam perilaku sehari-hari. Ingat, santri harus berkualitas dan memiliki karya,” kata Wagub Sani.
Ia juga berpesan kepada para orang tua agar tidak ragu meluangkan harta untuk bersedekah serta mendidik anak dengan Al-Qur’an. Menurutnya, rezeki yang dikeluarkan untuk pendidikan agama tidak akan berkurang, justru akan bertambah.
“Sedekah merupakan wujud syukur, melipatgandakan rezeki, menghapus dosa, dan memberikan ketenangan hati. Amalan ini juga membantu sesama dan mendatangkan keberkahan,” sambungnya.
Selain itu, Wagub mengingatkan pentingnya menjaga hubungan baik antar sesama manusia (hablum minannas) yang harus seimbang dengan hubungan kepada Allah (hablum minallah). Ia menekankan pentingnya silaturahmi, kepedulian sosial, adab, kejujuran dalam bermuamalah, tidak menyakiti tetangga, memaafkan, serta menjaga lisan dan jemari di dunia maya.



