Padahal, jika dikelola dengan baik, situs-situs sejarah di Parlilitan dapat menjadi pusat edukasi sejarah Batak, destinasi wisata budaya, sekaligus ruang refleksi perjuangan bangsa. Bayangkan jika setiap situs diberi narasi yang kuat, didokumentasikan secara akademik, dipublikasikan melalui media digital, dan dijadikan agenda budaya tahunan. Parlilitan tidak hanya dikenal sebagai wilayah geografis, tetapi sebagai “ruang sejarah perjuangan”.
Keresahan ini seharusnya menjadi panggilan bersama. Bukan hanya tugas pemerintah, bukan hanya tugas akademisi, tetapi juga tanggung jawab masyarakat Parlilitan sendiri. Sejarah tidak akan hidup jika tidak diceritakan. Warisan tidak akan bernilai jika tidak dinarasikan. Dan identitas tidak akan kuat jika tidak disadari bersama.
Kita tidak boleh menunggu pihak luar datang lalu menceritakan sejarah kita. Justru masyarakat lokal harus menjadi narator utama sejarahnya sendiri. Merekalah penjaga memori, pewaris cerita, dan saksi hidup dari nilai-nilai perjuangan yang diwariskan turun-temurun.
Mengangkat narasi sejarah Sisingamangaraja di Parlilitan bukan sekadar romantisme masa lalu. Ini adalah strategi peradaban. Ketika sejarah diangkat dengan kuat, maka budaya ikut terjaga, pendidikan lokal menguat, pariwisata tumbuh, dan ekonomi masyarakat dapat bergerak. Dengan kata lain, membangun narasi sejarah adalah investasi jangka panjang bagi kemajuan daerah.



