Praktik demikian jelas bertentangan dengan teladan Founding father GMKI Johannes Leimena yang selalu menempatkan pelayanan, kasih, integritas, dan tanggung jawab moral sebagai fondasi gerakan.
Kekuasaan Yang Membungkam di Tubuh PP GMKI
Persoalan yang lebih serius muncul ketika organisasi nasional kehilangan keberanian bersikap. Hari ini, PP GMKI telah kehilangan taring gerakan organisasi yang dibuktikan dengan kuranyanya respon dalam menyikapi berbagai dinamika nasional yang beberapa kali terjadi belakangan ini. Ketika cabang berupaya menyuarakan tuntuan, PP GMKI malah mencabut tuntuan dan membatalkan aksi yang sudah dijadwalkan. Situasi ini menimbulkan kesan bahwa organisasi lebih nyaman menjaga relasi dengan kekuasaan dibanding menjaga keberpihakan pada rakyat.
Sejatinya, GMKI tidak dibangun untuk mencari kenyamanan struktural, melainkan untuk menjaga keberanian dihadapan penguasa. Ketika kekuasaan justru membungkam, maka yang hilang tidak hanya nilai gerakan, tetapi juga legitimasi moral di mata kader dan masyarakat.
76 tahun seharusnya menjadi momentum perbaikan organisasi untuk kembali pada jati diri sebagai gerakan oikumenis yang berpijak di akar rumput. GMKI harus kembali ke pergumulan rakyat, membangun pendidikan kader yang serius, dan menata ulang arah kebijakan yang berintegritas.



