Per-hari ini dapat disurvei bahwa hanya cabang besar yang masih menerapkan sistem pendidikan kader meskipun pada akhirnya pola pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi cabang masing-masing. 120 cabang se-tanah air menurut data terakhir di Kongres Samarinda, tapi tidak ada hal konkret didiskusikan yang bertujuan untuk memperbaiki kaderisasi GMKI kedepan dan sebaliknya hanya berfokus pada pemilihan mandataris kongres. Akibatnya, GMKI berisiko kehilangan identitasnya sebagai gerakan kader, dan secara perlahan bergeser menjadi sekadar wadah struktural tanpa adanya ruh kaderisasi.

Pragmatisme di Tubuh GMKI

Kongres Samarinda 2025 seharusnya menjadi momentum refleksi dan pertarungan gagasan guna mengembalikan nilai profetis organisasi GMKI. Namun, yang tampak malah sebaliknya. Kongres hari ini sungguh berbeda, dimana pragmatisme terang-terangan dibuka, mekanisme kongres hanya simbolis semata, dan hasil kongres minim arah bagi cabang masing-masing.

Pemilihan mandataris kongres samarinda secara terang-terangan diperhadapkan dengan atmosfer politik praktis. Maka dikenal dengan istilah “1 kepala 1 suara”, maksudnya bahwa pemilihan mandataris kongres sudah menyamai pemilihan kepala negara menggunakan sistem kepolitikan yang dinamakan politik praktis yang lebih brutal. Jabatan dijanjikan, surat rekomendasi terbuka dari cabang ke calon ketua dan sekretaris umum dihargai dengan secuil uang, dan kekerasan berujung penganiayaan di forum kongres samarinda.