Jakarta — Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel memimpin latihan kesiapsiagaan militer sebagai langkah persiapan menghadapi potensi ancaman agresi dari Amerika Serikat (AS). Upaya ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara Havana dan Washington.
Latihan militer tersebut digelar setelah Presiden AS Donald Trump pada awal Januari memperingatkan Kuba agar “siap menghadapi konsekuensi” jika tidak mencapai kesepakatan dengan Washington, termasuk menyiratkan kemungkinan tindakan keras yang serupa dengan yang dilakukan terhadap Venezuela.
Dalam pernyataannya yang disiarkan televisi nasional Kuba, Díaz-Canel menegaskan bahwa kesiapsiagaan militer penting untuk mencegah agresi eksternal. Ia mengatakan cara terbaik mencegah serangan adalah memaksa pihak luar “menghitung harga yang harus dibayar” jika menyerang negaranya.
Díaz-Canel terlihat memantau langsung latihan militer yang melibatkan satuan tank Angkatan Bersenjata Kuba. Ia didampingi oleh Jenderal Álvaro López Miera, Menteri Angkatan Bersenjata Kuba, serta sejumlah pejabat militer senior.
Langkah ini bagian dari peningkatan kesiapsiagaan nasional di bawah konsep strategis yang disebut oleh pihak Kuba sebagai Perang Seluruh Rakyat. Konsep ini mencakup peningkatan latihan, mobilisasi kesiapan angkatan bersenjata, serta persiapan organisasi sipil jika terjadi ancaman bersenjata.
Sebelumnya, ketegangan meningkat setelah operasi militer AS di Venezuela pada 3 Januari yang berujung pada penahanan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, sekutu dekat Kuba. Peristiwa tersebut mendorong Kuba memperkuat persiapan militer serta mengekspresikan penolakan terhadap langkah-langkah Washington.
Díaz-Canel sebelumnya juga menekankan penolakan terhadap tekanan dan intervensi AS dalam hubungan dengan Kuba dan Venezuela, dengan menegaskan bahwa negosiasi yang adil hanya bisa terwujud atas dasar kedaulatan dan hukum internasional.



