Antrean IPO Tersisa Empat Perusahaan
Setelah pencatatan saham ke-22 pekan ini, BEI hanya mencatat empat perusahaan yang masih mengantre untuk IPO, turun drastis dari pipeline per 20 Juni 2025 yang sebelumnya mencapai 14 perusahaan.
Nyoman menjelaskan, penurunan ini disebabkan tiga faktor utama: pembaruan laporan keuangan per Juni 2025, perbaikan data yang memerlukan waktu, serta penolakan dari otoritas bursa atas pengajuan IPO.
“Data menunjukkan dalam dua tahun terakhir rata-rata ada sekitar 45–47 perusahaan yang melaporkan dokumen IPO dengan laporan keuangan Juni,” kata Nyoman.
Tren Penawaran Umum Menurun
Di sisi lain, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, menyebut penghimpunan dana di pasar modal tetap tumbuh positif hingga semester pertama 2025, meski jumlah IPO turun.
Per 30 Juni 2025, total penawaran umum di pasar modal mencapai Rp 142,62 triliun, naik dari Rp 120 triliun pada periode sama 2024. Namun, nilai IPO saham baru hanya Rp 6,69 triliun dari 14 perusahaan, lebih kecil dibanding semester pertama 2024 dengan 25 emiten baru.
“Ke depan masih ada 13 pipeline penawaran umum dengan nilai indikatif sekitar Rp 9,80 triliun,” ujarnya.
Rencana tersebut terdiri atas enam IPO saham dengan nilai Rp 5,95 triliun dan tujuh penerbitan efek utang & sukuk (EBUS) senilai Rp 9,80 triliun. Jumlah dan nilai ini jauh di bawah capaian tahun lalu, ketika pipeline mencapai 103 penawaran umum senilai Rp 30,02 triliun.
Direktur Utama PT BRI Danareksa Sekuritas, Laksono Widodo, tak menampik aksi IPO melambat di tengah volatilitas pasar akibat ketidakpastian ekonomi global.
“Banyak investor institusi lebih memilih instrumen berisiko rendah seperti SRBI dan SBN. Jika suku bunga turun, pasar saham akan kembali membaik,” kata Laksono.


