“Suami saya bukan preman. Fitnah-fitnah yang beredar itu tidak benar. Kami tidak terima,” tutur istri korban. Ia berharap masyarakat berhenti memberikan komentar tidak pantas di media sosial maupun di ruang publik lainnya.
Kronologi versi keluarga menyebutkan bahwa korban sempat menelepon sekuriti pasar bernama Feri untuk meminta bantuan setelah cekcok dengan pelaku. Feri pun datang untuk melerai, namun justru ikut menjadi korban. Ia mengalami luka serius hingga harus menerima hampir 30 jahitan. Hingga kini, belum ada itikad baik atau tanggung jawab dari pihak pelaku terhadap sekuriti pasar tersebut.
Feri membenarkan bahwa dirinya hanya mencoba melerai. “Saya tidak menyerang, saya hanya pisahkan mereka. Tapi saya malah kena tikam juga,” ujarnya singkat.

Pisau yang digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa korban pun disebut bukan pisau biasa seperti yang lazim digunakan untuk memotong pempek. “Itu pisau panjang, tajam sekali. Bukan pisau dapur biasa,” ujar salah satu warga yang turut menyaksikan peristiwa tersebut.
Sementara itu, seorang warga sekitar bernama Ismira menyatakan bahwa korban bukan preman. “Saya sering lihat dia, orangnya tenang. Tidak pernah cari masalah, malah sopan kalau berpapasan,” katanya.



