Ibnu Kholdun Sebut Kliennya Tak Dapat Dipersalahkan Usai Jadi Terdakwa Dalam Kasus Bank Jambi

Perkara522 Dilihat

Jambi – Seorang anak magang pada Bank 9 Jambi KCP Syariah Mersam, Batanghari jadi terdakwa dalam kasus tindak pidana korupsi yakni M Royyen.

Terdakwa menjalani sidang pemeriksaan saksi bersama dengan 2 terdakwa lainnya yakni Rizal selaku Kepala Cabang dan juga Bambang, staf marketing.

Namun usai sidang kuasa hukum terdakwa Ibnu Kholdun, SH., MH. mengungkap bahwa sebenarnya M Royyen tidak dapat dipersalahkan dalam kasus ini.

Hal ini dikarenakan terdakwa yang hanya berstatus sebagai anak magang, bukan pegawai Bank 9 Jambi KCP Syariah Mersam. Ibnu Kholdun juga sampai mengungkap beberapa poin dalam perjanjian magang yang menguatkan pernyataan nya.

“Klien kami jelas tidak dapat dipersalahkan. Secara hukum klien kami tidak memiliki tanggungjawab dalam melakukan pekerjaan, karna di perjanjian ini jelas,” ujar Ibnu Kholdun, usai sidang pada Rabu, 3 April 2024.

Begini salah satu klausul dalam perjanjian magang tersebut. “Pasal 3 soal Status (klien kami) pihak kedua mempunyai status sebagai peserta magang selama jangka waktu sebagaimana dimaksud Pasal 2. Oleh karena itu pihak kedua bukan pekerja pihak pertama (Bank Jambi),” kata Ibnu.

Atas dasar klausul ini, menurut Ibnu terhadap kliennya tidak berlaku peraturan kerja dari Bank juga ketentuan ketenagakerjaan lainnya. Kliennya tidak punya tanggung jawab terhadap kerja-kerja di Bank karena memang tidak tercantum dalam perjanjian.

“Artinya apapun bentuk keputusan direksi, klien kami tidak bertanggungjawab. Saat ini klien kami yang ditetapkan jadi terdakwa. Dimana hati nurani para penegak hukum?,” katanya.

Sementara itu, kata Ibnu, diatas posisi kliennya terdapat analis dan para pejabat bank.

“Kenapa tidak tersentuh hukum?,” ujarnya.

Kuasa hukum Royyen itu pun berharap agar majelis hakim yang mengadili perkara berpegang pada hati nurani dan fakta-fakta yang terungkap di persidangan selanjutnya.

“Yang jelas kami berharap dengan fakta-fakta persidangan dan hati nurani majelis hakim ya. Yang benar katakan benar, salah katakan salah. Kami mohon keadilan,” tuturnya.

Reporter: Juan Ambarita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *