Jakarta — Jumlah wisatawan asal China ke Jepang tercatat anjlok hingga 45,2 persen pada Februari 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini disebut sebagai dampak berlanjutnya perselisihan diplomatik antara kedua negara selama tiga bulan terakhir.

Sebelumnya, China merupakan sumber wisatawan terbesar bagi Jepang dan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan sektor pariwisata di negara tersebut, termasuk di destinasi populer seperti Gunung Fuji. Tren ini juga didukung oleh melemahnya nilai tukar yen yang membuat biaya belanja lebih terjangkau bagi turis asing.

Namun, pada Januari 2026, posisi China sebagai penyumbang wisatawan terbesar tergeser oleh Korea Selatan. Tren tersebut berlanjut pada Februari, dengan jumlah wisatawan dari Korea Selatan meningkat 28,2 persen menjadi sekitar 1,1 juta orang.

Sebaliknya, jumlah pengunjung dari China hanya mencapai 396.400 orang pada Februari, menurut data Japan National Tourism Organization.

Sebagai perbandingan, sebanyak 18 negara dan wilayah mencatat rekor jumlah kunjungan ke Jepang pada Februari, termasuk Korea Selatan, Taiwan, dan Amerika Serikat.

Memburuknya hubungan antara Jepang dan China terjadi sejak pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November 2025 yang menyebut Jepang kemungkinan akan terlibat secara militer jika China berupaya merebut Taiwan.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari China, yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk menguasainya. Pemerintah China kemudian memanggil duta besar Jepang serta memperingatkan warganya untuk tidak bepergian ke Jepang.

Penurunan jumlah wisatawan China ke Jepang telah terlihat sejak akhir 2025, dengan penurunan sekitar 45 persen pada Desember dan semakin tajam hingga 60,7 persen pada Januari 2026.

Di sisi lain, kondisi ini justru mendorong peningkatan jumlah wisatawan China ke negara lain. Korea Selatan mencatat 418.703 kunjungan wisatawan China pada Januari 2026, naik dari 364.460 pada periode yang sama tahun sebelumnya, menurut Korea Tourism Organization.

Sementara itu, jumlah wisatawan China ke Thailand juga meningkat rata-rata 4,24 persen selama periode Januari hingga Februari dibandingkan tahun lalu.

Menjelang musim bunga sakura yang biasanya mencapai puncak pada akhir Maret hingga awal April, sejumlah laporan media lokal di Jepang menyebut penurunan wisatawan China diperkirakan masih akan berlanjut.

Beberapa hotel di kawasan Teluk Tokyo menyatakan jumlah tamu asal China telah berkurang hingga setengah sejak November 2025 dan diperkirakan masih akan berlanjut hingga Maret dan April 2026.

Namun demikian, sejumlah hotel lainnya mengaku belum merasakan dampak signifikan dari memburuknya hubungan antara Tokyo dan Beijing terhadap tingkat hunian mereka.