Jakarta – Presiden Nigeria, Bola Ahmed Tinubu, mengerahkan pasukan militer ke dua negara bagian menyusul serangan kelompok bersenjata yang menewaskan ratusan warga sipil.
Laporan Al Jazeera menyebutkan, kelompok bersenjata menyerbu komunitas Woro di negara bagian Kwara pada Selasa malam (3/2/2026) dan menewaskan sedikitnya 170 orang. Sementara itu, di negara bagian Katsina, 21 orang lainnya dilaporkan tewas dalam serangan serupa.
Dalam pernyataan resminya pada Rabu (4/2/2026), Presiden Tinubu menegaskan bahwa komando militer Nigeria telah diperintahkan untuk memburu kelompok bersenjata tersebut serta memastikan perlindungan terhadap warga sipil.
Ia mengutuk keras serangan tersebut dan menyebut para pelaku bertindak secara “pengecut dan barbar” karena menargetkan warga yang menolak paham ekstremisme.
“Sungguh terpuji karena anggota komunitas, meskipun Muslim, menolak keyakinan yang mempromosikan kekerasan daripada perdamaian,” ujar Tinubu, seperti dikutip Al Jazeera.
Hingga kini, belum ada kelompok yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, berdasarkan kesaksian warga setempat, para penyerang diduga merupakan kelompok Islam garis keras yang telah lama menyebarkan ajaran radikal dan mendesak warga untuk meninggalkan wilayah tersebut.
Pemerintah Nigeria menuding adanya “sel teroris” sebagai dalang di balik serangan mematikan ini. Presiden Tinubu dan sejumlah warga secara spesifik menyalahkan Boko Haram, kelompok ekstremis Islam yang telah lama beroperasi di Nigeria.
Pembantaian di Kwara ini disebut sebagai salah satu tragedi paling mematikan di kawasan tersebut dalam beberapa bulan terakhir. Serangan terjadi tidak lama setelah militer Nigeria melancarkan operasi keamanan yang menargetkan elemen-elemen teroris di wilayah tersebut.
Koresponden Al Jazeera, Ahmed Idris, menyebutkan bahwa serangan semacam ini kerap terjadi setiap kali angkatan bersenjata memulai operasi di daerah yang menjadi basis kelompok bersenjata.
Sementara itu, Juru Bicara Kepolisian Kwara, Adetoun Ejire-Adeyemi, mengatakan pihak kepolisian bersama militer telah dikerahkan untuk melakukan operasi pencarian, penyelamatan korban luka, serta menelusuri laporan penculikan.
Seorang anggota parlemen di negara bagian Kwara mengungkapkan bahwa para penyerang menyergap warga, mengikat tangan mereka ke belakang, lalu membunuh mereka secara brutal.
Warga yang selamat dilaporkan melarikan diri ke semak-semak ketika kelompok bersenjata membakar rumah-rumah dan pertokoan. Cuplikan siaran televisi lokal memperlihatkan sejumlah jenazah tergeletak di tanah dengan tangan terikat serta bangunan yang hangus terbakar.
Serangan ini sekaligus mengakhiri pakta perdamaian antara warga dan kelompok bersenjata yang sebelumnya bertahan selama enam bulan. Peristiwa tersebut menyoroti dilema warga di wilayah terpencil Nigeria yang kerap hidup di bawah ancaman kekerasan, di mana sebagian warga terpaksa membayar atau memberikan makanan kepada kelompok bersenjata demi keselamatan mereka.


