Jakarta — Paus Leo XIV memimpin umat Katolik sedunia dalam Misa Vigili Paskah di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Sabtu (4/4) malam.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyerukan agar umat manusia tidak terbuai oleh luasnya konflik yang melanda dunia dan terus berupaya mewujudkan perdamaian.
Dalam khotbahnya, Paus Leo mengingatkan bahwa ketidakpercayaan dan ketakutan telah memutuskan ikatan antar manusia melalui perang, ketidakadilan, serta isolasi antarbangsa.
“Jangan biarkan diri kita lumpuh!” seru Paus Leo, yang merupakan paus pertama asal Amerika Serikat, seperti dilansir Reuters.
Ia juga mengajak umat untuk meneladani para santo yang memperjuangkan keadilan, agar karunia Paskah berupa harmoni dan perdamaian dapat tumbuh di berbagai penjuru dunia.
Dalam misa yang menjadi perayaan terpenting dalam kalender Katolik tersebut, Paus Leo turut membaptis 10 orang dewasa yang baru bergabung dalam Gereja Katolik.
Pesan mengenai perdamaian dan persatuan menjadi inti khotbah Paus Leo di hadapan ribuan jemaat di gereja terbesar umat Kristiani itu. Meski demikian, ia tidak menyebutkan konflik tertentu secara spesifik dalam ibadah tersebut. Namun, dalam beberapa kesempatan sebelumnya, ia dikenal vokal mengkritisi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dalam beberapa pekan terakhir, Paus Leo semakin lantang menyoroti konflik di Iran. Pada Minggu (29/3), ia menyatakan bahwa Tuhan menolak doa para pemimpin yang memulai perang dengan “tangan penuh darah.”
Pada Selasa (31/3), ia juga secara langsung menyerukan kepada Donald Trump untuk mencari “jalan keluar” guna mengakhiri perang.
Pernyataan tersebut sempat mendapat tanggapan dari pemerintah Washington D.C.. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan pandangan terkait seruan tersebut.
“Negara kita adalah negara yang didirikan hampir 250 tahun lalu, hampir sepenuhnya berdasarkan nilai-nilai Yudaisme-Kristiani. Kita sudah menyaksikan para presiden, para pemimpin Kementerian Perang, dan para tentara kita berdoa di masa-masa paling bergejolak dalam sejarah bangsa kita,” ujar Leavitt, dikutip dari Newsweek.
“Saya rasa tidak ada yang salah dengan para pemimpin militer kami atau dengan presiden yang menyerukan rakyat Amerika untuk berdoa bagi para anggota militer kita di luar negeri. Jika Anda berbicara dengan begitu banyak personel militer, mereka menghargai doa dan bahkan didukung para komandan militer serta kabinet,” tambahnya.

