Bagi Indonesia, pukulan langsung terasa pada perekonomian nasional. Harga BBM RON 92 tembus Rp15.000/liter yang kemudian memicu protes di Jawa dan Sumatera, defisit neraca perdagangan membengkak hingga Rp50 triliun akibat impor LPG serta diesel dari Teluk Persia yang naik 40%, ditambah pelemahan rupiah ke Rp17.000 per dolar AS yang memicu inflasi pangan 7,5%—tingkat terburuk sejak krisis 2023—dengan harga beras medium naik 25% dan cabai 40%. Ribuan pekerja migran Indonesia (PMI) di Timur Tengah, khususnya 1.200 WNI yang dievakuasi dari Lebanon bulan lalu, berisiko terjebak di zona perang. Sementara subsidi BBM APBN 2026 membengkak menjadi Rp300 triliun atau 15% total anggaran, memaksa pemangkasan infrastruktur dan pendidikan.
Namun, peluang muncul bagi diplomasi Indonesia sebagai negara netral ASEAN. Presiden Prabowo Subianto mengusulkan forum perdamaian Jakarta untuk mediasi Iran-AS, memposisikan RI sebagai pemain kunci di panggung global, meski tantangan domestik seperti krisis energi berpotensi berlarut hingga akhir 2026 tanpa deeskalasi segera.


