Jambi — Dugaan peretasan rekening yang menimpa nasabah Bank 9 Jambi menjadi sorotan setelah sejumlah korban melaporkan kehilangan dana dalam jumlah besar secara tidak wajar. Kasus ini diduga tidak hanya terjadi secara individual, melainkan berdampak pada sebagian nasabah dalam jumlah signifikan.

Nilai kerugian yang teridentifikasi diperkirakan mencapai ratusan Bitcoin (BTC).

“Jumlahnya (kerugian) capai Rp143 miliar,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Jambi Kombes Pol Taufik Nurmandia.

Dana tersebut diduga dialihkan ke aset kripto melalui sejumlah platform exchange.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dana dari rekening nasabah terlebih dahulu dikirim ke platform seperti Tokocrypto dan Reku. Di platform tersebut, dana dikonversi menjadi aset kripto seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan USDT sebelum ditarik ke wallet eksternal.

Setelah kasus ini mulai diketahui publik, dilakukan penelusuran terhadap aktivitas akun pada platform exchange. Hasilnya, puluhan akun berhasil diidentifikasi dan dikenakan tindakan pembatasan.

Tercatat, sekitar 29 akun pada platform Reku dan sekitar 44 akun pada Tokocrypto telah disuspensi, dengan total dana yang berhasil dibekukan diperkirakan mencapai sekitar Rp15 miliar.

Namun demikian, sebagian besar dana diduga telah lebih dulu berpindah. Diperkirakan, puluhan hingga mendekati seratus Bitcoin telah masuk ke tahap off-ramp, yaitu proses di mana aset kripto mulai ditukar atau dialihkan ke bentuk lain yang lebih sulit dilacak.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim Orasi.id kemudian melakukan investigasi mandiri dengan menelusuri aliran dana melalui data blockchain.

Hasil investigasi tim Orasi.id menemukan pola transaksi yang terstruktur dan sistematis. Dana dari berbagai korban dikumpulkan dalam beberapa wallet penampung, kemudian dipecah ke ratusan alamat berbeda untuk mengaburkan jejak transaksi, sebelum kembali dipindahkan ke wallet lain.

Untuk memperdalam analisis, tim Orasi.id mewawancarai seorang praktisi IT yang memiliki pemahaman di bidang blockchain dan kripto. Narasumber tersebut merupakan kenalan tim Orasi.id dan meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Dalam wawancara tersebut, narasumber menjelaskan bahwa pola yang ditemukan menunjukkan karakteristik pencucian dana digital.

“Pola seperti ini dikenal sebagai layering. Dana dikumpulkan, lalu dipecah ke banyak alamat, kemudian dipindahkan kembali secara berulang. Biasanya ini dilakukan dengan sistem otomatis, bukan manual,” jelasnya kepada Orasi.id.

Lebih lanjut, hasil pelacakan menunjukkan bahwa sebagian aliran dana mengarah ke layanan pertukaran kripto instan, yakni FixedFloat.

Menurut narasumber tersebut, titik ini merupakan fase penting dalam proses pengaburan dana.

“Ketika dana sudah masuk ke layanan seperti ini, biasanya langsung ditukar ke aset lain atau bahkan ke jaringan blockchain berbeda. Di tahap ini, pelacakan menjadi jauh lebih kompleks,” ujarnya.

Tim Orasi.id juga menemukan indikasi bahwa akun pada platform exchange dibuat menggunakan data pribadi nasabah. Hal ini menimbulkan dugaan adanya penyalahgunaan atau kebocoran data dalam skala besar.

Selain itu, pola transaksi yang ditemukan menunjukkan tingkat pemahaman teknis yang tinggi.

“Ini bukan pola kejahatan biasa. Ada tahapan yang jelas, mulai dari pengumpulan, pemecahan, hingga pengaburan dana. Ini menunjukkan adanya perencanaan dan pemahaman terhadap sistem keuangan digital,” ujarnya kepada tim Orasi.id dalam hasil investigasinya.

Hingga saat ini, sebagian wallet yang teridentifikasi masih menyimpan dana berupa Bitcoin (BTC), sementara sebagian lainnya telah bergerak menuju layanan pertukaran lintas jaringan.

Kasus ini menjadi peringatan serius terhadap pentingnya keamanan data pribadi dan sistem perbankan, serta menunjukkan bagaimana teknologi kripto dapat dimanfaatkan dalam skema kejahatan digital yang semakin kompleks.

Perkembangan kasus ini diharapkan dapat menjadi perhatian luas, mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga berpotensi mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan digital secara keseluruhan.