Lebih lanjut, hasil pelacakan menunjukkan bahwa sebagian aliran dana mengarah ke layanan pertukaran kripto instan, yakni FixedFloat.

Menurut narasumber tersebut, titik ini merupakan fase penting dalam proses pengaburan dana.

“Ketika dana sudah masuk ke layanan seperti ini, biasanya langsung ditukar ke aset lain atau bahkan ke jaringan blockchain berbeda. Di tahap ini, pelacakan menjadi jauh lebih kompleks,” ujarnya.

Tim Orasi.id juga menemukan indikasi bahwa akun pada platform exchange dibuat menggunakan data pribadi nasabah. Hal ini menimbulkan dugaan adanya penyalahgunaan atau kebocoran data dalam skala besar.

Selain itu, pola transaksi yang ditemukan menunjukkan tingkat pemahaman teknis yang tinggi.

“Ini bukan pola kejahatan biasa. Ada tahapan yang jelas, mulai dari pengumpulan, pemecahan, hingga pengaburan dana. Ini menunjukkan adanya perencanaan dan pemahaman terhadap sistem keuangan digital,” ujarnya kepada tim Orasi.id dalam hasil investigasinya.

Hingga saat ini, sebagian wallet yang teridentifikasi masih menyimpan dana berupa Bitcoin (BTC), sementara sebagian lainnya telah bergerak menuju layanan pertukaran lintas jaringan.

Kasus ini menjadi peringatan serius terhadap pentingnya keamanan data pribadi dan sistem perbankan, serta menunjukkan bagaimana teknologi kripto dapat dimanfaatkan dalam skema kejahatan digital yang semakin kompleks.