Namun demikian, sebagian besar dana diduga telah lebih dulu berpindah. Diperkirakan, puluhan hingga mendekati seratus Bitcoin telah masuk ke tahap off-ramp, yaitu proses di mana aset kripto mulai ditukar atau dialihkan ke bentuk lain yang lebih sulit dilacak.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim Orasi.id kemudian melakukan investigasi mandiri dengan menelusuri aliran dana melalui data blockchain.

Hasil investigasi tim Orasi.id menemukan pola transaksi yang terstruktur dan sistematis. Dana dari berbagai korban dikumpulkan dalam beberapa wallet penampung, kemudian dipecah ke ratusan alamat berbeda untuk mengaburkan jejak transaksi, sebelum kembali dipindahkan ke wallet lain.

Untuk memperdalam analisis, tim Orasi.id mewawancarai seorang praktisi IT yang memiliki pemahaman di bidang blockchain dan kripto. Narasumber tersebut merupakan kenalan tim Orasi.id dan meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Dalam wawancara tersebut, narasumber menjelaskan bahwa pola yang ditemukan menunjukkan karakteristik pencucian dana digital.

“Pola seperti ini dikenal sebagai layering. Dana dikumpulkan, lalu dipecah ke banyak alamat, kemudian dipindahkan kembali secara berulang. Biasanya ini dilakukan dengan sistem otomatis, bukan manual,” jelasnya kepada Orasi.id.