Jakarta — Wakil Presiden Filipina, Sara Duterte, mengumumkan akan mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilihan umum 2028 mendatang.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah perseteruan politik yang memanas antara dirinya dan Presiden Ferdinand Marcos Jr.. Sara sebelumnya sempat dimakzulkan tahun lalu, namun perkara itu dibatalkan oleh Mahkamah Agung Filipina karena persoalan prosedural.
Pengumuman pencalonan ini juga disampaikan hanya beberapa hari sebelum ayahnya, mantan presiden Rodrigo Duterte, menjalani sidang pendahuluan di International Criminal Court (ICC), Belanda, atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait operasi pemberantasan narkoba.
“Saya, Sara Sara. Saya akan mencalonkan diri sebagai presiden Filipina,” ujar wakil presiden berusia 47 tahun itu dalam konferensi pers pada Rabu (18/2).
“Saya mempersembahkan hidup, kekuatan, dan masa depan saya untuk mengabdi kepada bangsa ini,” lanjutnya, seraya mengkritik kinerja Marcos Jr.
Kritik Terbuka ke Marcos Jr
Dalam pidato singkatnya, Sara menuding Marcos melakukan korupsi serta gagal menepati komitmen dalam aliansi politik yang membawa keduanya menang telak pada pemilu presiden 2022.
“Dalam beberapa bulan pertama masa jabatan kami, saya sudah melihat kurangnya ketulusan Bongbong Marcos Jr. terhadap janji-janji kampanye maupun sumpah jabatannya kepada bangsa,” ujarnya.
Berdasarkan konstitusi Filipina, presiden hanya dapat menjabat satu kali masa jabatan selama enam tahun. Dengan ketentuan tersebut, Marcos tidak bisa kembali maju dalam pemilu 2028.
Isu Pemakzulan Kembali Mencuat
Dalam beberapa pekan terakhir, upaya pemakzulan terhadap Sara kembali mencuat. Sejumlah pihak mengajukan gugatan pemakzulan pada 9 Februari.
Sesuai konstitusi, proses pemakzulan akan berujung pada persidangan di Senat. Jika dinyatakan bersalah, Sara dapat dilarang berpolitik dan tidak bisa mengikuti kontestasi pilpres.
Di sisi lain, Marcos juga menghadapi dua pengaduan pemakzulan. Namun, keduanya ditolak oleh komite kehakiman Dewan Perwakilan Rakyat karena dinilai tidak memiliki dasar yang cukup.
Tekanan politik terhadap presiden juga meningkat setelah mencuat dugaan skandal proyek pengendalian banjir fiktif yang disebut merugikan negara hingga miliaran dolar. Isu tersebut pertama kali disoroti dalam pidato kenegaraan pada Juli dan memicu dinamika politik yang melibatkan sekutu maupun lawan politik, termasuk anggota keluarganya sendiri di Kongres.
Pada Rabu, juru bicara Marcos, Claire Castro, menyatakan Sara seharusnya meminta maaf atas dugaan “korupsi dan penyalahgunaan dana” yang tercantum dalam pengaduan pemakzulan sebelum mengkritik presiden. Meski demikian, Castro menyebut Marcos merespons kabar pencalonan tersebut dengan ucapan, “semoga berhasil”.
Aliansi Politik yang Retak
Sara dan Marcos Jr sebelumnya merupakan sekutu politik. Namun, hubungan keduanya merenggang hanya beberapa pekan setelah kemenangan dalam pemilu presiden 2022.
Ketegangan disebut bermula ketika Sara tidak memperoleh portofolio kabinet yang diinginkannya dan justru ditunjuk sebagai menteri pendidikan.
Pengaduan pemakzulan terhadap Sara juga menyinggung dugaan ancaman pembunuhan terhadap Marcos yang ia lontarkan dalam konferensi pers. Namun, Sara kemudian menyatakan bahwa pernyataannya telah disalahartikan.



