Target Produksi 400 Ribu Ton Garam per Tahun

Pemilihan Rote Ndao sebagai kawasan industri garam didasarkan pada sejumlah keunggulan, terutama faktor cuaca yang mendukung produksi. Selain itu, kualitas air di wilayah tersebut dinilai lebih baik untuk pengembangan tambak garam.

Frista menargetkan produktivitas mencapai 200 ton per hektare. Jika sekitar 10.000 hektare dikembangkan secara optimal, produksi dari kawasan ini diproyeksikan mencapai sekitar 400 ribu ton garam per tahun.

Industri Soroti Tantangan Logistik

Menanggapi tawaran tersebut, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman menyatakan pemerintah saat ini memang tengah mendorong ekstensifikasi tambak garam. Namun, ia menilai tantangan utama industri garam terletak pada aspek logistik.

Ia berharap KKP dan PT Garam dapat memprioritaskan pembangunan industri pengolahan garam yang berdekatan dengan industri pengguna, khususnya sektor makanan dan minuman.

“Oleh sebab itu, sekaligus saya berharap kepada KKP maupun PT Garam, kalau bisa membangun industri-industri pengolahannya di dekat industri pengguna dulu. Sebagai prioritas agar logistik ini menjadi murah, dan ini juga penting bagi industri makan minuman untuk meningkatkan daya saing,” ujar Adhi.