Inflasi selalu dimulai dari angka. Persentase. Grafik. Pernyataan resmi.
Namun bagi masyarakat, inflasi tidak pernah hadir sebagai statistik. Ia hadir sebagai pengalaman hidup.

Harga kebutuhan pokok yang naik pelan tapi konsisten. Gaji yang terasa berhenti tumbuh. Pengeluaran yang semakin sulit dipangkas tanpa mengorbankan kualitas hidup. Di titik inilah muncul jarak antara apa yang disebut negara sebagai “inflasi terkendali” dan apa yang dirasakan rakyat sebagai “hidup yang makin mahal”.

Secara makroekonomi, inflasi Indonesia memang belum berada pada level yang mengkhawatirkan. Angkanya masih satu digit. Stabilitas relatif terjaga. Tidak ada gejolak ekstrem. Namun persoalannya bukan pada tinggi atau rendahnya inflasi semata, melainkan pada siapa yang paling menanggung bebannya.

Inflasi tidak pernah bekerja secara netral. Ia tidak menghantam semua lapisan masyarakat dengan kekuatan yang sama. Kenaikan harga pangan, energi, dan biaya dasar kehidupan akan jauh lebih terasa bagi rumah tangga yang sebagian besar pendapatannya habis untuk konsumsi. Di sinilah inflasi berubah dari sekadar persoalan ekonomi menjadi soal keadilan sosial.

Kelompok berpendapatan rendah tentu paling rentan. Namun ada satu kelompok lain yang kerap luput dari perhatian: kelas menengah. Mereka tidak cukup miskin untuk mendapat perlindungan penuh, tetapi juga tidak cukup kaya untuk kebal terhadap kenaikan harga. Inflasi membuat kelas menengah mengurangi tabungan, menunda rencana hidup, dan perlahan kehilangan daya tahan ekonomi. Ini bukan kemiskinan mendadak, melainkan kerapuhan yang tumbuh diam-diam.