Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai banjir bandang yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia belakangan ini, termasuk di Sentul, Kabupaten Bogor, tidak lagi dapat dipandang semata sebagai dampak hujan ekstrem atau berkurangnya tutupan pohon.
Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi BRIN, Hendra Gunawan, menegaskan peristiwa tersebut merupakan “alarm ekologis, tanda bahwa ekosistem hutan sebagai penyangga kehidupan telah mengalami keruntuhan fungsi (ecosystem collapse).”
Menurutnya, hujan lebat di wilayah tropis sebenarnya merupakan fenomena alam yang wajar. Namun, ketika ekosistem hutan kehilangan kemampuan mengatur tata air, menstabilkan tanah, serta meredam energi hujan, curah hujan singkat dapat berubah menjadi aliran deras yang membawa lumpur, kayu, dan batu hingga merusak permukiman serta infrastruktur.
“Banjir bandang bukan lagi kejadian alam biasa, melainkan sinyal bahwa ekosistem hutan di banyak bentang alam telah berada pada kondisi kritis,” jelas Hendra di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat (13/2), seperti dikutip dari laman BRIN.
Kerusakan Sistemik Ekosistem Hutan
Hendra menjelaskan deforestasi memang menjadi faktor penting dalam berbagai bencana hidrometeorologis, termasuk banjir bandang. Alih fungsi lahan, pertambangan, pembalakan, serta ekspansi pertanian dan perkebunan telah mengubah struktur lanskap hutan secara drastis.
Namun, ia menegaskan deforestasi hanya menjelaskan apa yang hilang, bukan sepenuhnya menjawab mengapa bencana menjadi semakin cepat, ekstrem, dan destruktif. Menurutnya, kerusakan yang terjadi bersifat sistemik.
Ia menjelaskan hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan sistem kompleks yang melibatkan tanah, air, tumbuhan, satwa, mikroorganisme, dan iklim mikro dalam jaringan interaksi saling bergantung.
Ketika tekanan berlangsung terus-menerus, daya lenting atau resiliensi sistem melemah hingga akhirnya runtuh. Pada tahap tersebut fungsi ekologis tidak lagi berjalan optimal.
“Air hujan tidak lagi terserap dan tersimpan, melainkan langsung mengalir ke hilir, stabilitas lereng melemah akibat rusaknya sistem perakaran, pengendalian iklim mikro terganggu, dan habitat keanekaragaman hayati menyusut drastis,” jelasnya.
Menurutnya, banjir bandang menjadi konsekuensi logis dari runtuhnya sistem tersebut.
Keruntuhan Ekosistem Terjadi Bertahap
Hendra menuturkan keruntuhan ekosistem hutan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses spasial bertahap yang sering luput dari perhatian publik maupun pembuat kebijakan hingga bencana terjadi.
“Perubahan lanskap hutan itu gradual. Awalnya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terakumulasi,” ujarnya.
Ia memaparkan lima proses spasial yang dapat mengubah matriks lanskap hutan:
-
Fragmentasi — hutan utuh terpecah menjadi fragmen kecil dan terisolasi sehingga konektivitas ekologis terganggu.
-
Dissection — lanskap hutan terbelah oleh jalan raya atau infrastruktur linear lain.
-
Perforasi — munculnya “lubang” di bentang hutan akibat pembukaan lahan.
-
Shrinkage — penyusutan luas fragmen hutan yang tersisa.
-
Attrition — hilangnya fragmen kecil akibat degradasi berkelanjutan.
“Proses-proses ini bisa terjadi bersamaan atau bergantian. Karena berjalan perlahan, sering kali kita tidak menyadari bahwa sistemnya sedang menuju titik kritis,” tegasnya.
Titik Kritis Ekosistem dan Risiko “Hutan Semu”
Ia menambahkan akumulasi perubahan tersebut mendorong ekosistem menuju titik kritis yang sulit dipulihkan. Ketika ambang batas resiliensi terlampaui, kerusakan menjadi semakin kompleks dan mahal untuk diperbaiki.
Tanda awal degradasi sebenarnya dapat dikenali dari terganggunya spesies kunci. Di Sumatera, misalnya, meningkatnya konflik Harimau Sumatera dinilai bukan sekadar konflik satwa dan manusia.
“Ketika harimau masuk ke permukiman atau melintasi jalan raya, itu bukan hanya soal konflik. Itu indikator bahwa habitatnya sudah tidak lagi utuh dan sehat,” ujarnya.
Hendra juga menyoroti persepsi yang melihat hutan hanya sebagai kumpulan pohon. Pendekatan semacam ini kerap memunculkan solusi instan seperti penanaman massal tanpa perencanaan ekologis berbasis lanskap.
“Menanam pohon tidak otomatis memulihkan ekosistem,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa restorasi sejati harus memulihkan fungsi serta proses ekologis, bukan sekadar mengganti tutupan vegetasi. Tanpa pendekatan ilmiah berbasis ekosistem, rehabilitasi berisiko menghasilkan “hutan semu” yang rapuh dan miskin keanekaragaman hayati.
Seruan Perubahan Paradigma Pembangunan
Hendra menilai kebijakan pengelolaan hutan tidak bisa lagi dilakukan secara parsial. Ia menekankan perlunya konsistensi kebijakan lintas sektor, integrasi antara konservasi, restorasi, dan pembangunan, serta kolaborasi nyata antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
Ia juga menegaskan pentingnya mengevaluasi paradigma pembangunan yang cenderung eksploitatif.
“Selama hutan dipahami hanya sebagai sumber daya ekonomi, kita akan terus terjebak dalam siklus kerusakan dan bencana,” katanya.
Menurutnya, banjir bandang berulang merupakan pesan keras dari alam. Jika cara pandang terhadap hutan tidak berubah, bencana ekologis akan terus terjadi dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Sudah saatnya kita belajar dari alam, sebelum alarm ekologis ini berubah menjadi keruntuhan yang tidak lagi dapat dipulihkan,” ujarnya.



