Keruntuhan Ekosistem Terjadi Bertahap

Hendra menuturkan keruntuhan ekosistem hutan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses spasial bertahap yang sering luput dari perhatian publik maupun pembuat kebijakan hingga bencana terjadi.

“Perubahan lanskap hutan itu gradual. Awalnya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terakumulasi,” ujarnya.

Ia memaparkan lima proses spasial yang dapat mengubah matriks lanskap hutan:

  1. Fragmentasi — hutan utuh terpecah menjadi fragmen kecil dan terisolasi sehingga konektivitas ekologis terganggu.

  2. Dissection — lanskap hutan terbelah oleh jalan raya atau infrastruktur linear lain.

  3. Perforasi — munculnya “lubang” di bentang hutan akibat pembukaan lahan.

  4. Shrinkage — penyusutan luas fragmen hutan yang tersisa.

  5. Attrition — hilangnya fragmen kecil akibat degradasi berkelanjutan.

“Proses-proses ini bisa terjadi bersamaan atau bergantian. Karena berjalan perlahan, sering kali kita tidak menyadari bahwa sistemnya sedang menuju titik kritis,” tegasnya.

Titik Kritis Ekosistem dan Risiko “Hutan Semu”

Ia menambahkan akumulasi perubahan tersebut mendorong ekosistem menuju titik kritis yang sulit dipulihkan. Ketika ambang batas resiliensi terlampaui, kerusakan menjadi semakin kompleks dan mahal untuk diperbaiki.

Tanda awal degradasi sebenarnya dapat dikenali dari terganggunya spesies kunci. Di Sumatera, misalnya, meningkatnya konflik Harimau Sumatera dinilai bukan sekadar konflik satwa dan manusia.

“Ketika harimau masuk ke permukiman atau melintasi jalan raya, itu bukan hanya soal konflik. Itu indikator bahwa habitatnya sudah tidak lagi utuh dan sehat,” ujarnya.

Hendra juga menyoroti persepsi yang melihat hutan hanya sebagai kumpulan pohon. Pendekatan semacam ini kerap memunculkan solusi instan seperti penanaman massal tanpa perencanaan ekologis berbasis lanskap.

“Menanam pohon tidak otomatis memulihkan ekosistem,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa restorasi sejati harus memulihkan fungsi serta proses ekologis, bukan sekadar mengganti tutupan vegetasi. Tanpa pendekatan ilmiah berbasis ekosistem, rehabilitasi berisiko menghasilkan “hutan semu” yang rapuh dan miskin keanekaragaman hayati.