Industri Tekankan Jaminan Keamanan
Meski ketertarikan untuk terlibat dalam upaya pembangunan kembali Venezuela tetap ada, perusahaan energi menilai investasi baru belum masuk akal dalam waktu dekat. Keputusan bisnis, menurut mereka, sangat bergantung pada arah kebijakan pemerintah AS dalam beberapa bulan ke depan serta stabilitas politik Venezuela itu sendiri.
Dalam pertemuan tersebut, para eksekutif juga menyinggung pentingnya jaminan keamanan, baik untuk keselamatan karyawan maupun perlindungan aset dan peralatan. Kekhawatiran turut muncul terkait keberlanjutan kesepakatan bisnis, khususnya jika terjadi pergantian kekuasaan di Venezuela atau berakhirnya masa jabatan Trump.
Trump berupaya meredam kekhawatiran tersebut dengan menjanjikan keamanan penuh bagi perusahaan AS. Namun, janji itu tidak disertai penjelasan teknis maupun komitmen penggunaan sumber daya federal dalam skala besar.
Usai pertemuan, Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa fokus awal pemerintah adalah mengubah perilaku pemerintahan Venezuela. Ia juga menepis anggapan bahwa pemerintah mengharapkan hasil instan dari rencana tersebut.
Wright mengklaim minat industri terhadap Venezuela sebenarnya cukup besar. Ia mencontohkan Chevron—satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di Venezuela—yang memperkirakan produksi dapat meningkat hingga 50 persen dalam 18 hingga 24 bulan ke depan.
Namun, peningkatan tersebut hanya dapat direalisasikan jika Chevron memperoleh sejumlah izin khusus dari pemerintah AS.
Terkait klaim Trump mengenai potensi investasi baru senilai US$100 miliar atau setara Rp1.684,26 triliun (asumsi kurs Rp16.842 per dolar AS) untuk menghidupkan kembali industri minyak Venezuela, Wright mengakui target itu belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Menurutnya, angka tersebut masuk akal secara teori, tetapi realisasinya membutuhkan waktu panjang.
“Itu bukan minggu depan atau bulan depan,” ujar Wright. “Namun itulah arah yang sedang kami upayakan.”

