Gejala yang Perlu Diwaspadai
Sarkopenia umumnya berkembang secara perlahan dan sering kali tidak disadari. Sejumlah gejala yang dapat muncul antara lain kelemahan fisik, seperti kesulitan mengangkat benda, berdiri dari posisi duduk, atau naik tangga.
Selain itu, penderita juga dapat mengalami penurunan stamina, penyusutan ukuran otot, serta gangguan keseimbangan yang meningkatkan risiko jatuh dan cedera. Jika tidak ditangani, sarkopenia berpotensi menyebabkan disabilitas hingga ketergantungan fisik.
Penyebab dan Faktor Risiko
Selain penuaan alami yang biasanya semakin terasa setelah usia 40–50 tahun, beberapa faktor lain dapat mempercepat terjadinya sarkopenia. Di antaranya gaya hidup sedentari atau jarang berolahraga, malnutrisi terutama kekurangan protein dan kalori, serta penyakit kronis seperti gangguan ginjal, penyakit jantung, atau HIV/AIDS.
Diagnosis dan Upaya Pencegahan
Diagnosis sarkopenia dapat dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari kuesioner, pengukuran lingkar betis—kurang dari 34 cm pada pria dan 33 cm pada wanita—tes kekuatan genggaman tangan, hingga pemeriksaan lanjutan seperti DEXA atau BIA.
Untuk pencegahan dan penanganan, latihan kekuatan serta pemenuhan asupan protein menjadi kunci utama. Latihan ketahanan atau resistance training terbukti efektif dalam merangsang pembentukan dan mempertahankan massa otot.
Penanganan sarkopenia sejak dini dinilai penting untuk mencegah disabilitas dan menjaga kualitas hidup hingga usia lanjut. Membangun kebiasaan bergerak dan memperkuat otot sejak sekarang dapat menjadi investasi kesehatan di masa depan.

