Jakarta — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Arif Satria menyatakan riset dan inovasi yang dikembangkan lembaga yang dipimpinnya diarahkan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen sebagaimana dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Arif menjelaskan, BRIN memiliki tiga jalur utama dalam menopang target tersebut. Jalur tersebut meliputi penguatan riset dan inovasi untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dukungan terhadap industri, serta fasilitasi masuknya teknologi ke Indonesia.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, BRIN akan meluncurkan Rumah Inovasi Indonesia. Program ini dirancang sebagai ekosistem terintegrasi guna mendorong kemandirian teknologi sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional.

“Ini adalah pusat berkumpulnya inovator, industri dan funder untuk mengubah riset jadi kedaulatan ekonomi,” kata Arif dalam pemaparannya pada diskusi bersama para pemimpin media massa di Jakarta, Jumat (9/1).

Dalam keterangannya, Arif menyebut Rumah Inovasi Indonesia akan berfungsi sebagai etalase inovasi, pusat kolaborasi, serta layanan satu pintu untuk seluruh kebutuhan inovasi.

Ia menegaskan, penerima manfaat dari Rumah Inovasi Indonesia mencakup industri, masyarakat, UMKM, kementerian dan lembaga, badan usaha milik negara (BUMN), hingga investor.

Arif juga menekankan bahwa dampak yang diharapkan dari kehadiran Rumah Inovasi Indonesia adalah penguatan sinergi dan kolaborasi secara horizontal. Selain itu, inisiatif ini diharapkan mampu menarik minat investor dan industri global guna mempercepat penguasaan teknologi.