Pengalaman Predi yang aktif di berbagai komisariat serta keterlibatannya dalam proses kaderisasi menjadi modal penting dalam membaca peta sosial kader. Kaderisasi, bagaimanapun, adalah jantung HMI. Jika denyut ini melemah akibat konflik internal, maka peran strategis HMI di kampus dan masyarakat pun ikut tereduksi. Karena itu, seruan untuk membangun sinergi antar elemen kader bukan sekadar romantisme persatuan, melainkan kebutuhan mendesak demi keberlangsungan organisasi.

Dukungan dari sejumlah alumni dan kader senior terhadap pencalonan Predi juga mencerminkan kerinduan akan figur pemersatu. Penilaian atas sikap komunikatif, kerendahan hati, dan kapasitas kepemimpinannya menunjukkan bahwa sebagian kader mulai jenuh dengan pola kepemimpinan yang elitis dan eksklusif. Mereka menginginkan Ketua Umum yang mampu hadir sebagai simpul, bukan sekat.

Konfercab semestinya tidak dipahami sebagai arena pertarungan kuasa semata, tetapi sebagai ruang muhasabah kolektif. Apakah HMI Cabang Jambi akan terus terjebak dalam konflik internal, atau justru menjadikannya momentum untuk menata ulang arah perjuangan? Di titik ini, gagasan rekonsiliasi layak diperlakukan sebagai tawaran serius, bukan sekadar komoditas politik Konfercab.