Saat diwawancarai dirumah sakit, Adityo menjelaskan, penyaluran MBG ke 28 sekolah yang sebelumnya dilayani SPPG Sengeti dihentikan sementara, sambil menunggu hasil investigasi menyeluruh terkait penyebab keracunan massal tersebut.

Kendati demikian, Kanreg BGN Provinsi Jambi tersebut enggan mengungkap temuan awal, dengan alasan proses penyelidikan masih berlangsung. Terkait standar operasional, Adityo mengklaim seluruh SPPG di Jambi telah mengantongi Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi.

“Yang operasional semuanya sudah bersertifikat. Jadi secara standar sebenarnya sudah sesuai,” ujarnya.

Namun, ia tak menampik kemungkinan adanya kelalaian dalam pelaksanaan SOP di lapangan.

“Bukan sertifikasinya yang diragukan, tapi ada pelaksanaan SOP yang kurang berjalan dengan baik,” tegasnya.

Berdasarkan keterangan yang diterima BGN di Rumah Sakit , ditemukan fakta bahwa sejumlah siswa membawa pulang jatah MBG, lalu dikonsumsi oleh anggota keluarga. Selain itu, guru juga turut mencicipi makanan, sehingga jumlah korban bertambah.

“Serah terima MBG sebenarnya hanya ke penerima manfaat yang terdata. Kalau sudah sampai sekolah, itu menjadi tanggung jawab pihak sekolah, ungkap Adityo.

Ia menambahkan, kejadian ini menjadi peringatan keras bagi seluruh penyelenggara MBG, mulai dari penentuan menu, pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga penyajian makanan.