Jakarta — Penyakit kardiovaskular (CVD) masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Data World Health Organization (WHO) dan Global Burden of Disease mencatat sebanyak 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular pada 2022.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 32 persen dari total kematian global, dengan sekitar 85 persen kasus disebabkan oleh serangan jantung dan stroke.

Selama ini, penyakit kardiovaskular kerap dikaitkan dengan gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan buruk, kurang aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok. Namun, faktor lain yang sering luput dari perhatian adalah perubahan hormon, khususnya penurunan kadar testosteron pada pria.

Dokter Ivonne Andriani Santoso menyebut penurunan hormon testosteron dapat menjadi salah satu pemicu meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular. Hal tersebut disampaikannya dalam pembukaan Steros Men’s Health & Anti Aging Clinic.

“Testosteron tidak hanya berperan pada fungsi reproduksi, tetapi juga memengaruhi metabolisme tubuh pria,” ujar Ivonne dalam keterangannya, Kamis (15/1).

Ia menjelaskan, ketika kadar testosteron menurun, risiko penumpukan lemak visceral meningkat. Kondisi ini kerap disertai gangguan kolesterol, tekanan darah tinggi, hingga inflamasi kronis, yang seluruhnya merupakan faktor risiko utama penyakit jantung.