Penurunan Hormon Bisa Dimulai Sejak Usia Muda
Andrologist dan Seksolog Wimpie Pangkahila menegaskan bahwa penurunan hormon tidak selalu identik dengan usia lanjut. Proses tersebut bahkan dapat dimulai sejak usia muda.
“Manusia menjadi tua karena hormon berkurang, bukan sebaliknya. Bukan hormon yang berkurang karena manusia menjadi tua,” kata Wimpie.
Ia menjelaskan adanya perbedaan antara usia kronologis yang dihitung berdasarkan tahun kelahiran dan usia fisiologis yang mencerminkan fungsi sistem organ tubuh.
Menurut Wimpie, proses penuaan dipengaruhi oleh dua faktor besar. Faktor internal meliputi ketidakseimbangan hormon, radikal bebas, glikosis, metilasi, apoptosis, sistem imun, kerusakan DNA, serta faktor genetik. Sementara faktor eksternal berkaitan dengan pola hidup dan diet tidak sehat, kebiasaan buruk, paparan polusi lingkungan, serta stres berkepanjangan.
Wimpie membagi proses penuaan ke dalam tiga fase lambat. Fase subklinis terjadi pada usia 25–35 tahun saat hormon mulai berkurang. Fase transisi berlangsung pada usia 35–45 tahun, ketika kadar hormon menurun hingga sekitar 25 persen. Adapun fase klinis terjadi setelah usia 45 tahun, saat penurunan hormon semakin nyata.
Keluhan akibat rendahnya testosteron dikenal sebagai Testosterone Deficiency Syndrome (TDS). Pada usia lanjut, kondisi ini disebut Androgen Deficiency in Aging Male (ADAM) atau Partial Androgen Deficiency in Aging Male (PADAM), yang juga dikenal sebagai Late-Onset Hypogonadism (LOH).
“Penurunan kadar testosteron pada pria juga berdampak pada kenyamanan hidup, seperti kelelahan, depresi, kebingungan, rasa panas, hingga keringat berlebih pada malam hari,” jelas Wimpie.
Ia menambahkan bahwa gangguan hormonal tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga aspek psikologis dan sosial. Pada pria usia produktif, kondisi ini dapat mengganggu pengambilan keputusan penting, baik dalam bisnis, pengembangan karier, maupun relasi sosial.
Bukan lagi semata persoalan strategi dan perhitungan rasional, melainkan kestabilan emosi dan suasana hati yang sangat dipengaruhi oleh hormon.
Sementara itu, Dokter pengampu Hormon in Balance & Anti-Aging Klinik Pratama Steros, Donny Firdaus, menyatakan pihaknya menyediakan terapi penggantian hormon bagi pria dengan kadar testosteron rendah dan gangguan hormonal lainnya.
“Dengan pendekatan medis yang ilmiah, perawatan kami bertujuan meningkatkan energi, vitalitas, dan kualitas hidup,” ujarnya.



