Paris — Petit Palais menjadi panggung presentasi koleksi Schiaparelli Haute Couture Musim Panas 2026 rancangan Daniel Roseberry pada Senin (26/1). Koleksi bertajuk L’Agonie et l’Extase ini disebut sebagai pertunjukan paling reflektif sekaligus teatrikal sejak Roseberry mengambil alih rumah mode tersebut pada 2019.

Inspirasi utama koleksi ini berakar dari pengalaman Roseberry saat mengunjungi Kapel Sistina. Ia menggambarkan momen ketika emosi menggantikan nalar, saat seni berhenti menjelaskan dan justru mengajak penikmatnya untuk merasakan.

Istilah “Agoni dan Ekstase” merujuk pada ketegangan batin dan fisik yang dialami Michelangelo ketika mengerjakan langit-langit Kapel Sistina pada 1508–1512, karya monumental yang kemudian menjadi salah satu tonggak sejarah seni Barat. Agoni merepresentasikan penderitaan manusiawi—rasa sakit fisik, tekanan psikologis, dan keraguan spiritual—sementara ekstase menggambarkan momen transendensi dan pencerahan.

Michelangelo melukis Kapel Sistina dalam kondisi ekstrem, bekerja berbaring di perancah selama bertahun-tahun dengan tubuh yang rusak, penglihatan terganggu, serta konflik batin antara tugas religius dan pencarian artistik personal. Dari penderitaan tersebut lahir visi yang radikal pada masanya.

Roseberry melihat lebih dari sekadar ikonografi religius. Ia menyoroti proses emosional di balik penciptaan karya tersebut. Dinding Kapel Sistina yang dipenuhi lukisan naratif dianggapnya bersifat edukatif dan deskriptif. Namun, ketika pandangan diarahkan ke langit-langit karya Michelangelo, narasi seakan berhenti dan digantikan oleh pengalaman emosional murni.

Di titik inilah agoni dan ekstase bertemu: penderitaan pencipta dan kebebasan artistik yang dirasakan penonton, bahkan 500 tahun kemudian.

Pengalaman tersebut mengubah cara Roseberry memandang couture. Ia tidak lagi berangkat dari pencarian “bentuk yang benar”, melainkan dari sensasi batin dalam proses penciptaan. Kapel Sistina menjadi metafora tertinggi atas visinya di Schiaparelli—menciptakan karya yang tidak bersifat deskriptif, tetapi memicu respons emosional.

“Di sini, agoni dan ekstase bercampur, mengerikan sekaligus indah,” ujar Roseberry dalam catatan pertunjukan.

Pernyataan itu menjadi kerangka konseptual sepanjang peragaan, terlihat dari ketegangan antara struktur yang kokoh dan kesan lepas, antara teknik couture yang disiplin dengan ledakan imajinasi yang nyaris liar.

Pendekatan ini sejalan dengan DNA Schiaparelli. Elsa Schiaparelli sejak awal memandang mode sebagai medium seni dan ekspresi surealis. Kolaborasinya dengan Jean Cocteau pada 1930-an, seperti mantel dengan bordir profil wajah dan tangan, mengaburkan batas antara tubuh, simbol, dan fantasi. Roseberry mewarisi semangat tersebut tanpa menirunya secara literal, menjadikan mode sebagai artefak emosional dan intelektual.

Leitmotif koleksi ini adalah makhluk hibrida—reptil, arachnida, burung, hingga figur kimera—yang disebut Roseberry sebagai infantas terribles. Siluet khas Schiaparelli hadir melalui bahu kokoh ala jaket Elsa, pinggul yang menantang gravitasi, serta elemen yang tampak melayang atau mencuat dari tubuh seperti ekor kalajengking, sayap, paruh, dan duri.

Sketsa awal berupa garis tegas dan coretan cepat bermetamorfosis menjadi sengat dan gigi, dengan “racun yang ditenun langsung ke dalam siluetnya”.

Tampilan pembuka merangkum bahasa visual tersebut. Jaket kulit satin putih dengan pinggul arsitektural dipadukan dengan kipas bulu hitam gradasi di punggung, menyerupai sayap yang baru tumbuh. Efek sfumato pada celana beludru—dari nude ke hitam—menghadirkan transisi cahaya yang menjadi teknik kunci koleksi ini.

Sepatu mule dengan detail lubang kunci emas, ikon khas Elsa Schiaparelli, kembali dimunculkan sebagai rujukan pada pendiri rumah mode hampir seabad lalu.

Motif kalajengking tampil eksplisit dalam rangkaian Les Sœurs Scorpion. Lace Chantilly hitam dan crin transparan dibentuk menjadi ekor tiga dimensi, baik sebagai bordir maupun ekstensi struktural pada bustier. Teknik bas-relief pada renda menciptakan ilusi volume dan bayangan yang ekstrem, tampak seperti arsitektur rapuh yang ditopang jarum dan benang nyaris tak terlihat.

Palet gelap diseimbangkan dengan warna neon yang difilter melalui teknik sfumato. Look ke-16 menampilkan gaun beludru hitam dengan bahu tulle oranye fluoresen dan pinggul dramatis, sementara kristal champagne jatuh seperti hujan cahaya.

Figur jaket Elsa mencapai puncaknya di akhir peragaan. Bordir renda logam, efek gradasi reptilian, serta sayap dari ribuan bulu yang dicat tangan dalam warna pistachio, koral, hingga shocking pink, menggemakan obsesi Elsa terhadap fauna, terutama burung dan makhluk laut.

Paruh burung tiga dimensi dan aksesori kepala bertabur mutiara bergaya barok semakin menegaskan hubungan Schiaparelli dengan surealisme, yang kerap menjadikan tubuh sebagai lanskap mimpi.

Momen paling teatrikal hadir pada Look 28, gaun bustier dengan bordir bulu merak hijau absinthe yang berkilau oleh kristal. Di titik ini, couture tampil seperti altar visual, padat dan hening, dengan fokus penuh pada detail.

Pada akhirnya, Roseberry mempertanyakan fungsi couture itu sendiri.

“Couture adalah undangan. Ia berkata: berhentilah berpikir. Saatnya merasakan.”

Di tengah lanskap mode yang semakin rasional dan berorientasi pasar, Schiaparelli memilih arah sebaliknya. Seperti Kapel Sistina yang menginspirasinya, koleksi ini tidak menawarkan jawaban—hanya sebuah pengalaman untuk dilihat, dikenakan, dan dirasakan.