Surabaya — Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendistribusikan 453 ribu dosis vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) untuk merespons peningkatan kasus PMK yang menyerang hewan ternak pada awal tahun 2026.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, percepatan vaksinasi PMK menjadi langkah krusial mengingat Jawa Timur merupakan salah satu lumbung ternak nasional. Oleh karena itu, perlindungan populasi ternak menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
“Percepatan vaksinasi ini penting karena Jatim merupakan lumbung ternak nasional. Dengan vaksinasi serentak, kita dorong terbentuknya herd immunity agar populasi ternak terlindungi dan ekonomi peternak tetap terjaga. Untuk tahap pertama, kita bagikan 453 ribu dosis,” kata Khofifah melalui keterangannya, Kamis (29/1).
Berdasarkan data Dinas Peternakan Jawa Timur per Selasa (27/1), tercatat sebanyak 927 kasus PMK. Dari jumlah tersebut, 242 ekor sapi dinyatakan sembuh, sementara 672 ekor masih berstatus sakit dan menjalani penanganan intensif. Selain itu, delapan ekor sapi dilaporkan mati akibat PMK, dan lima ekor lainnya harus dipotong paksa.
Pemprov Jatim melalui Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur juga menetapkan pelaksanaan Gerakan Vaksinasi PMK Serentak yang mulai digelar pada 29 Januari 2026 di seluruh kabupaten dan kota se-Jawa Timur. Ribuan dokter hewan serta petugas kesehatan hewan diterjunkan langsung ke lapangan untuk melakukan vaksinasi pada ternak milik masyarakat.
“Pemprov Jatim mulai mendistribusikan 453 ribu dosis vaksin PMK tahap I ke 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur. Distribusi ini menjadi bagian dari rangkaian vaksinasi PMK yang dijadwalkan berlangsung hingga September 2026,” ucap Khofifah.
Vaksin PMK tahap pertama tersebut disalurkan melalui Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur kepada perwakilan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan di masing-masing daerah untuk segera digunakan dalam pelaksanaan vaksinasi di lapangan.
“Ini langkah antisipasi untuk melindungi populasi ternak di Jatim. Kami distribusikan vaksin skala besar mulai dilaksanakan hari ini,” tegas mantan Menteri Sosial RI tersebut.
Dalam pelaksanaannya, Pemprov Jatim terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Sepanjang tahun 2026, Kementerian Pertanian telah mengalokasikan total 1.510.000 dosis vaksin PMK khusus untuk Provinsi Jawa Timur.
“Kami berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian RI. Untuk tahun ini, Kementerian Pertanian telah mengalokasikan total 1.510.000 dosis vaksin PMK khusus untuk Provinsi Jawa Timur,” ujarnya.
Selain vaksinasi, pengendalian PMK juga dilakukan melalui penguatan biosekuriti kandang, pengawasan ketat lalu lintas ternak, serta edukasi kepada para peternak. Petugas kesehatan hewan juga disiagakan di pasar-pasar hewan guna memastikan tidak ada ternak sakit yang diperjualbelikan.
“Untuk opsi penutupan sementara pasar hewan, akan kami terapkan khusus di wilayah-wilayah dengan tingkat kasus PMK tinggi atau masuk zona merah,” tegas Khofifah.
Sebagai langkah preventif tambahan, Pemprov Jatim juga akan mengaktifkan kembali Satuan Tugas (Satgas) PMK yang melibatkan BPBD, aparat kewilayahan, serta unsur TNI dan Polri. Unsur kelurahan, kecamatan, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas turut dilibatkan dalam monitoring serta pendampingan kepada peternak.
“Penanganan PMK tidak bisa setengah-setengah. Kami bergerak bersama, berkolaborasi dan bersinergi lintas sektor, dari pemerintah daerah, aparat kewilayahan, hingga TNI dan Polri, untuk memastikan pengendalian PMK berjalan cepat, terpadu, dan efektif di lapangan,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Khofifah mengimbau seluruh pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan kasus PMK. Ia juga meminta para peternak bersikap proaktif dan kooperatif saat petugas melakukan vaksinasi serta pemeriksaan kesehatan ternak.
“Kami mengimbau kepada bupati/walikota dan para peternak untuk terus meningkatkan kewaspadaan, mempercepat vaksinasi PMK, serta disiplin menerapkan manajemen pakan dan menjaga kesehatan ternak, sehingga penyebaran PMK dapat ditekan dan keberlangsungan peternakan rakyat tetap terjaga,” katanya.

