Di sisi lain, ancaman verbal dari orang tua murid nyaris tak mendapat perhatian serius. Kata “mati kau kubuat” tidak cukup menggugah negara. Aneh memang: ancaman dibiarkan, tepukan dipidanakan. Di sinilah hukum kehilangan rasa keadilannya.

Jika setiap tindakan guru harus dihantui laporan pidana, maka sekolah akan berubah menjadi ruang steril nilai. Guru hanya akan mengajar materi, bukan karakter. Murid belajar hukum lebih cepat daripada etika.

Dan orang tua?
Berubah menjadi aparat penegak hukum versi emosional.

Ini bukan pembelaan membabi buta terhadap guru. Ini pembelaan terhadap akal sehat. Negara seharusnya menjadi penimbang, bukan algojo. Hukum seharusnya membaca niat, bukan sekadar menyalin pasal.

Karena ketika negara gagal membedakan mendidik dan menganiaya, yang runtuh bukan hanya wibawa guru — tetapi masa depan pendidikan itu sendiri.

Hari ini satu guru jadi tersangka.
Besok, jangan heran jika tak ada lagi yang berani mendisiplinkan.

Dan lusa, kita akan bertanya:
kenapa sekolah gagal membentuk karakter?

Padahal jawabannya sederhana:
karena negara membunuh akal sehatnya sendiri.