Fundamental Ekonomi Dinilai Masih Kuat
Misbakhun menilai, fundamental ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi solid meski nilai tukar rupiah sempat tertekan hingga mendekati level Rp17 ribu per dolar AS. Menurutnya, pelemahan tersebut lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar.
“Fundamental kita kuat. Yang terjadi adalah sebuah sentimen-sentimen yang menurut saya memang harus diberikan penguatan kepada pasar,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan DPR meminta Bank Indonesia untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar berada pada level yang moderat dan mencerminkan kekuatan ekonomi nasional.
“Kita meminta Bank Indonesia untuk menjaga nilai tukar rupiah pada angka-angka yang moderat. Angka-angka yang memberikan simbolisasi terhadap penguatan dan kapasitas ekonomi Indonesia,” kata Misbakhun.
Menurutnya, Indonesia memiliki indikator ekonomi yang solid, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi rendah, hingga kondisi eksternal yang kuat.
“Kita punya pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 4,8 4,9 bahkan 5 secara year on year dan kita mempunyai inflasi yang rendah, kita mempunyai cadangan devisa yang sangat kuat. Dan kita mempunyai current account yang surplus, kita mempunyai balance of trade yang positif, dan kemudian kita transaksi neraca pembayaran dan sebagainya kita semuanya positif,” katanya.
Misbakhun menambahkan, hal yang perlu diperkuat saat ini adalah kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia. Ia menilai Indonesia tetap memiliki daya tarik kuat sebagai tujuan investasi, baik portofolio maupun sektor riil.
“Indonesia itu adalah negara yang prospek ekonominya itu untuk investasi, untuk kemudian mereka menanamkan portfolio. Investasi sektor riil. itu adalah negara yang cukup kuat untuk itu,” ujarnya.
Adapun nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp16.896 per dolar AS pada Kamis (22/1) sore, menguat 40 poin atau 0,24 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

