Jakarta — Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan bahwa proses pergantian Deputi Gubernur Bank Indonesia tidak memiliki keterkaitan dengan pergerakan nilai tukar rupiah.
Misbakhun meminta publik dan pelaku pasar tidak mengaitkan pelemahan rupiah dengan dinamika internal di bank sentral.
“Bagaimanapun juga figur-figur penggantian Deputi Gubernur Bank Sentral itu adalah kewenangan Gubernur Bank Sentral untuk mengajukan kepada Presiden sebagai Kepala Negara. Dan menurut saya jangan dikaitkan dan jangan dihubungkan. Karena menurut saya itu hal yang sangat tidak korelatif,” ujar Misbakhun saat ditemui di Gedung AA Maramis, Jakarta, Rabu (21/1).
Uji Kelayakan Calon Deputi Gubernur BI
Ia menjelaskan, Komisi XI DPR RI telah menjadwalkan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bagi para calon Deputi Gubernur BI. Uji kelayakan dilakukan pada Jumat untuk Solikin M Juhro, kemudian dilanjutkan pada Senin untuk Dicky Kartikoyono dan Thomas Djiwandono.
Setiap calon akan menjalani sesi sekitar satu jam yang mencakup pemaparan visi dan misi, tanya jawab, serta penyampaian jawaban akhir. Hasil uji kelayakan tersebut akan diputuskan melalui rapat internal Komisi XI pada hari yang sama, sebelum dilaporkan ke rapat paripurna DPR pada Selasa (27/1).
“Semua persyaratan kita sudah cek semuanya, sekuen tanggal, pengunduran diri, dan sebagainya semuanya kita sudah cek sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-perundangan,” ujarnya.
Fundamental Ekonomi Dinilai Masih Kuat
Misbakhun menilai, fundamental ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi solid meski nilai tukar rupiah sempat tertekan hingga mendekati level Rp17 ribu per dolar AS. Menurutnya, pelemahan tersebut lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar.
“Fundamental kita kuat. Yang terjadi adalah sebuah sentimen-sentimen yang menurut saya memang harus diberikan penguatan kepada pasar,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan DPR meminta Bank Indonesia untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar berada pada level yang moderat dan mencerminkan kekuatan ekonomi nasional.
“Kita meminta Bank Indonesia untuk menjaga nilai tukar rupiah pada angka-angka yang moderat. Angka-angka yang memberikan simbolisasi terhadap penguatan dan kapasitas ekonomi Indonesia,” kata Misbakhun.
Menurutnya, Indonesia memiliki indikator ekonomi yang solid, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi rendah, hingga kondisi eksternal yang kuat.
“Kita punya pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 4,8 4,9 bahkan 5 secara year on year dan kita mempunyai inflasi yang rendah, kita mempunyai cadangan devisa yang sangat kuat. Dan kita mempunyai current account yang surplus, kita mempunyai balance of trade yang positif, dan kemudian kita transaksi neraca pembayaran dan sebagainya kita semuanya positif,” katanya.
Misbakhun menambahkan, hal yang perlu diperkuat saat ini adalah kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia. Ia menilai Indonesia tetap memiliki daya tarik kuat sebagai tujuan investasi, baik portofolio maupun sektor riil.
“Indonesia itu adalah negara yang prospek ekonominya itu untuk investasi, untuk kemudian mereka menanamkan portfolio. Investasi sektor riil. itu adalah negara yang cukup kuat untuk itu,” ujarnya.
Adapun nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp16.896 per dolar AS pada Kamis (22/1) sore, menguat 40 poin atau 0,24 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

