Mengapa Syarat Itu Perlu Direvisi?

Mari kita jujur: kepemimpinan universitas tidak hanya soal pangkat akademik. Gelar Lektor Kepala memang penting, tapi ia bukan jaminan mutlak bahwa seseorang mampu memimpin universitas besar menghadapi tantangan global.

Justru, dengan membuka pintu lebih lebar, universitas bisa melirik sosok yang punya visi kuat, pengalaman luas, dan kemampuan manajerial yang mumpuni. Bisa jadi ia seorang akademisi senior, praktisi profesional, atau tokoh dengan jejaring internasional—meskipun belum menyandang gelar Lektor Kepala.

Di sinilah prinsip keadilan berbicara. Memberi kesempatan lebih luas berarti membuka jalan bagi keragaman perspektif, mempercepat reformasi internal, dan menyiapkan universitas menghadapi era disrupsi.

Filosofi Keadilan dan Kebebasan Akademik

Universitas bukan sekadar institusi birokratis yang kaku pada aturan administratif. Ia adalah ruang kebebasan akademik, tempat gagasan baru tumbuh.

Maka, logis jika pencalonan rektor tidak dibatasi hanya oleh satu jenjang akademik. Kompetensi, integritas, visi, dan keberanian berinovasi seharusnya menjadi ukuran utama.

Dengan status PTNBH, universitas memang didorong untuk berani mengambil keputusan besar. Membuka peluang lebih luas dalam seleksi rektor justru selaras dengan filosofi itu.