“Rincian menunjukkan Gempa Bogor M4,1 merupakan gempa tektonik, bukan vulkanik. Ini terlihat dari karakteristik gelombang gempa yang tercatat di Sensor Gempa, yang menunjukkan gelombang geser dengan frekuensi tinggi,” ungkap Daryono.

Ia juga menjelaskan bahwa saat gempa terjadi, masyarakat mendengar suara gemuruh. “Suara ini normal karena getaran frekuensi tinggi dekat permukaan, yang menunjukkan kedalaman gempa yang sangat dangkal,” tambah Daryono.

Hampir semua gempa dangkal biasanya disertai suara ledakan, dentuman, dan gemuruh. Gempa Bogor pada April 2025 terasa di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Depok dengan Skala Intensitas III-V MMI, menimbulkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan rumah.

Lebih jauh, kerusakan di Kota Bogor dipicu oleh beberapa faktor, seperti kedalaman hiposenter yang dangkal, struktur bangunan yang tidak memenuhi standar keamanan gempa, serta lokasi permukiman yang berada di tanah lunak.

“Sesar Citarik memiliki potensi untuk menghasilkan gempa kuat, sehingga penting untuk mempertimbangkan jalur sesar ini dalam perencanaan infrastruktur di wilayah Jabodetabek dan Sukabumi,” tutup Daryono.

(lom/mik)