Jakarta — Aktivitas kegempaan di Jawa Barat menarik perhatian setelah wilayah ini mengalami beberapa gempa dalam lebih dari sepekan terakhir. Salah satu sesar yang tengah diperhatikan adalah Sesar Citarik, yang sering mengganggu daerah Bogor hingga Sukabumi.
“Sesar Citarik memiliki orientasi utara barat daya – timur laut, dan tersegmentasi dari Pelabuhan Ratu, Bogor, hingga Bekasi. Mekanisme sesar ini adalah geser ke kiri,” jelas Daryono, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, dalam keterangannya pada Sabtu (23/8).
“Sesar ini diperkirakan telah aktif selama lebih dari belasan juta tahun dan masih berfungsi hingga sekarang, menunjukkan mekanisme sesar geser (sinistral strike slip),” tambahnya.
Daryono juga menyebut beberapa gempa signifikan yang diduga terkait dengan aktivitas sesar ini, seperti yang terjadi di Sukabumi dan Bogor pada tanggal 14 Juni 1900, 9 Februari 1975, 12 Juli 2000, dan 10 Maret 2020 (M5,0).
Gempa terbaru tercatat di Bogor pada 10 April 2025 dengan kekuatan M4,1. Selain itu, gempa besar di Kota Bogor pada 11 Oktober 1834 diperkirakan juga dipicu oleh Sesar Citarik, yang mengakibatkan kerusakan parah di Batavia dan Istana Bogor.
Gempa yang menghantam Bogor pada 10 April 2025 terjadi pada pukul 22:16:13 WIB dan termasuk dalam kategori gempa tektonik dengan episenter di Kota Bogor (koordinat 6.62 LS dan 106.8 BT) serta kedalaman 5 kilometer, berawal dari aktivitas sesar dengan mekanisme geser. Lokasi episenter terletak tepat pada jalur Sesar Citarik.
“Rincian menunjukkan Gempa Bogor M4,1 merupakan gempa tektonik, bukan vulkanik. Ini terlihat dari karakteristik gelombang gempa yang tercatat di Sensor Gempa, yang menunjukkan gelombang geser dengan frekuensi tinggi,” ungkap Daryono.
Ia juga menjelaskan bahwa saat gempa terjadi, masyarakat mendengar suara gemuruh. “Suara ini normal karena getaran frekuensi tinggi dekat permukaan, yang menunjukkan kedalaman gempa yang sangat dangkal,” tambah Daryono.
Hampir semua gempa dangkal biasanya disertai suara ledakan, dentuman, dan gemuruh. Gempa Bogor pada April 2025 terasa di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Depok dengan Skala Intensitas III-V MMI, menimbulkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan rumah.
Lebih jauh, kerusakan di Kota Bogor dipicu oleh beberapa faktor, seperti kedalaman hiposenter yang dangkal, struktur bangunan yang tidak memenuhi standar keamanan gempa, serta lokasi permukiman yang berada di tanah lunak.
“Sesar Citarik memiliki potensi untuk menghasilkan gempa kuat, sehingga penting untuk mempertimbangkan jalur sesar ini dalam perencanaan infrastruktur di wilayah Jabodetabek dan Sukabumi,” tutup Daryono.
(lom/mik)