Efek Ekonomi bagi Masyarakat
Bagi masyarakat menengah ke bawah, kendaraan pribadi adalah aset berharga. Bukan hanya alat transportasi, tetapi juga sarana mencari nafkah. Banyak pengemudi ojek online, pedagang keliling, atau pekerja lepas yang sangat bergantung pada kendaraan mereka. Dengan kebijakan baru ini, mereka yang terlambat memperpanjang STNK lebih dari dua tahun harus menghadapi risiko kehilangan kendaraan mereka secara permanen.
Pemerintah memang menawarkan solusi berupa registrasi ulang, tetapi ini bukanlah proses yang mudah dan murah. Proses birokrasi yang panjang serta biaya yang tidak sedikit bisa menjadi hambatan tersendiri bagi mereka yang ekonominya terbatas.
Perlu Sosialisasi yang Lebih Baik
Salah satu tantangan dalam penerapan kebijakan ini adalah kurangnya sosialisasi yang optimal. Tidak semua masyarakat memiliki akses informasi yang baik mengenai aturan baru ini. Pemerintah seharusnya melakukan edukasi lebih masif melalui berbagai media agar masyarakat benar-benar paham akan konsekuensi dari STNK mati dan bagaimana cara menghindarinya.
Selain itu, pemerintah juga perlu mempertimbangkan kebijakan transisi yang lebih fleksibel. Misalnya, memberikan kesempatan bagi pemilik kendaraan yang STNK-nya sudah mati lebih dari dua tahun untuk melakukan perpanjangan tanpa harus melewati prosedur registrasi ulang yang rumit.



