Jambi — Diskusi Bedah Buku Bencana Ekologis yang digelar di Universitas Batanghari (Unbari) pada Selasa Rabu 26 November 2025 menghadirkan kritik tajam terhadap berbagai persoalan lingkungan di Indonesia, khususnya Provinsi Jambi.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan menghadirkan narasumber dari eksekutif nasional WALHI, eksekutif daerah WALHI Jambi, akademisi, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Hadir pula peserta dari kalangan aktivis, mahasiswa, komunitas, organisasi rakyat, dan anggota lembaga WALHI Jambi.

Ketua Umum Mapala Gitasada, Zamnun, yang menjadi saat diwawancarai menyampaikan bahwa agenda ini menjadi ruang refleksi penting untuk memahami kondisi ekologis yang semakin memburuk di Indonesia dan Jambi.

“Diskusi membahas bencana ekologi di Indonesia dan di Jambi secara khusus, serta bagaimana memitigasi agar bencana tidak terus berulang. Tujuan kegiatan ini juga untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini beriringan dengan penandatanganan MoU antara Unbari dan WALHI Jambi sebagai langkah konkret penguatan kolaborasi akademik dan advokasi lingkungan.

Dosen Lingkungan Unbari, Umi Kulsum, mengkritisi pendekatan mitigasi bencana ekologis yang selama ini dilakukan pemerintah. Menurutnya, upaya mitigasi yang dijalankan negara tidak disertai kolaborasi riset dengan akademisi sehingga tidak menghasilkan data ilmiah sebagai dasar kebijakan pencegahan.