Jakarta – Kematian gembong narkoba Meksiko, Nemesio Rubén Oseguera Cervantes alias El Mencho, dalam serangan militer pada Minggu (22/2), kembali menyoroti panjangnya praktik peredaran narkotika dan dugaan keterlibatan pejabat tinggi di negara tersebut.

El Mencho dikenal sebagai pemimpin Cartel de Jalisco Nueva Generación (CJNG), kelompok kriminal yang menjadi rival utama Kartel Sinaloa. Kartel Sinaloa sendiri pernah dipimpin oleh Joaquin “El Chapo” Guzman, yang kini mendekam di penjara Amerika Serikat.

Dugaan Suap ke Presiden Meksiko

Nama El Chapo kembali mencuat dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Kota New York, Amerika Serikat, pada 2019. Mengutip BBC, dalam persidangan tersebut terungkap tuduhan bahwa mantan Presiden Meksiko, Enrique Peña Nieto, menerima suap sebesar 100 juta dolar AS (sekitar £77 juta) dari El Chapo. Tuduhan itu disampaikan oleh seorang saksi bernama Alex Cifuentes.

Guzman menjalani proses hukum di Brooklyn sejak November 2019 setelah diekstradisi dari Meksiko. Ia menghadapi berbagai dakwaan, termasuk perdagangan kokain, heroin, dan narkotika lainnya sebagai pemimpin kartel yang oleh otoritas Amerika Serikat disebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia.

Dalam kesaksiannya, Alex Cifuentes mengaku sebagai rekan dekat Guzman selama bertahun-tahun. Ia menyatakan telah memberi tahu pihak berwenang mengenai dugaan suap tersebut pada 2016.

Alex menyebut, awalnya Presiden Peña Nieto meminta 250 juta dolar AS sebelum akhirnya disepakati 100 juta dolar AS. Menurutnya, uang tersebut dikirim ke Mexico City pada Oktober 2012 oleh seorang rekan El Chapo.

Mengaku sebagai “orang kepercayaan” El Chapo, Alex bekerja sebagai sekretaris dan sempat menghabiskan dua tahun bersembunyi bersama Guzman di pegunungan Meksiko. Ia ditangkap pada 2013 di Meksiko, lalu diekstradisi ke Amerika Serikat. Di sana, ia mengaku bersalah atas perdagangan narkoba sebagai bagian dari kesepakatan dengan jaksa.